Aku senang, dalam pendakian kali ini, komitmen kami sederhana, kami tak punya niat untuk menaklukan gunung, kami hanya ingin menikmati indahnya alam ciptaan Allah swt. Dan satu lagi, Kami tak ingin seperti pendaki lainnya, kami hanya ingin meninggalkan jejak kaki kami.
Aku senang lagi, rumah emak di bambangan yg dijadikan camp sekaligus tempat registrasi untuk para pendaki terlihat bersih, tak ada graffiti disini, bakul nasi emak tak pernah kosong plus lauknya Apalagi sambal special bikinan emak disediakan khusus untuk para pendaki, hmmm enaak tenann.
Lama tak mendaki, sudah menjadi bagian yg buruk ketika baru 10 menit perjalanan, langsung teriaakk… “break… Break” , nggak ingat berapa kali kita bilang “break.. Break”..
Gunung slamet adalah jenis gunung stratovulcano, gunung yg dalam catatan vulcano world memiliki ketinggian 3432 Mdpl menduduki urutan ke 201 dari ribuan gunung sejenis.
Graffiti of love di gunung slamet.
Graffiti dalam catatan anak kota adalah coretan-coretan yg tajam yg menunjukkan identitas, geng, etc..etc, terkadang anak kota perang demi graffiti dengan saling mengcross graffiti lawan.
Ternyata, graffiti tak hanya mengotori tembok-tembok dijalanan kota, di gunung pun, graffiti memenuhi payung besar tempat berteduh, camp yg diam dan sudah lama membisu, batu yg besar yg telah lama diam dan bersujud, dan di puncak gunung slamet pun, tangan-tangan nakal tetap membuat graffiti. Yg anehnya justru dilakukan oleh teman-teman yg mengaku punya organisasi bernama “… Pala” ( pencinta alam).
Tak heran, bagi mereka yg pernah mendaki slamet, dipuncak slamet graffiti dibuat dari semen bertuliskan “… Pala”, mungkin biar nggak bisa dihapus kali ya… Atau mereka berharap graffiti itu bisa abadi.
Ah, suatu hari kalau para pencinta alam pergi mendaki ke gunung, mungkin akan seperti pergi ke “the bronx complex”, kata temenku. ah.. dasar graffitisme kalau air bisa di pilox ya, air pun bakal di pilox dan akan di tulisi… ” yang pernah nangkring disini”… ^_^
Dan diantara banyak graffiti-graffiti itu, graffiti yg terindah dan belum pernah kami temukan sebelumnya adalah pelangi, warnanya wow, merah kuning hijau…, bentuknya yg bulat di pagi yg indah. Graffiti yg satu inilah yg paling abadi diantara banyaknya graffiti lainnya yg berusaha untuk bersaing dan …
Menjadi pendaki profesional memang sulit, karena di hati pendaki profesional terkadang, masih terlihat kesombongan dan keangkuhan, karena merasa punya kemampuan untuk menaklukan Gunung yg tinggi.
Mungkin menjadi penikmat alam lebih baik, dan belajar menyukai alam akan lebih baik lagi dari pada pencinta alam berusaha untuk hanya…”Meninggalkan Jejak kaki di puncak gunung yg tinggi” Itulah secuil komitmen kami ketika akan mendaki Gunung slamet.
Nyanyian suara alam, tiupan angin plus kabut dan kicauan burung-burung yg bernyanyi merdu di pagi menjelang siang, mengiringi perjalanan kami turun dari puncak slamet. Dihamparan ladang kentang dan jenis sayuran lainnya petani tak pernah lelah bekerja, menjadikan pemandangan yg indah.
















sekedar mengingatkan….
benarkah lompobattang merupakan taman nasional? sepanjang pengetahuan saya di sulawesi selatan, taman nasional yang ada hanya taman nasional bantimurung bulusaraung…
sebenarnya aku pengen buangets mampir kesana tetapi selalu aja tidak pernah