Nggak boleh ngomong kotor di gunung Marapi
May 28th, 2003Ceritanya saya kasih judul “Nggak boleh mgomong kotor di gunung Marapi”, Yg menarik dari perjalanan ini adalah… Ketika Sunrise tiba, kami mengunjungi ngarai Sianok, lalu menunggu Sunset di Ngarai sianok lagi.
Sambil ditemani teh permaisuri from china daratan dan maem Getuk dari Mampang, saya mulai belajar menulis .. sambil denger lagunya avril lavigne..
++++++star here++++
Nggak boleh ngomong kotor di gunung Marapi
Obrolan santai dipagi yg cerah di depan Patung harimau di hamparan kebun teh di kawasan Kayu-Aro dengan temen-temen yg baru saya kenal yg ternyata adalah pendaki asal padang. Dari sinilah, kami memutuskan untuk mendaki Gunung Marapi saja, walaupun niat awal kami adalah mendaki Gunung Singgalang, yg sangat terkenal itu di bukit Tinggi.
Perjalanan dengan bus travel menuju bukit tinggi dari kayu aro ditempuh selama kurang lebih 7 jam, lumayan lama. melewati danau diatas dan danau dibawah, lalu lewat danau yg lumayan besar… Danau Singkarak yg terkenal itu, terlihat dikejauhan Gunung singgalang dan marapi terlihat menjulang indah..dan akhirnya sore hari kami tiba di Jam Gadang di Bukit Tinggi. Kota bukit tinggi, yg terkenal dengan heritage adventurer. Kami memutuskan menginap di Hotel Jogja. Hotel tua yg wah…. Melati banget deh!
Pagi sekali 7 mei 2003, aku (kunlun), A’a Yadi, Erwin dan Kang bayu.. Mulai berkemas dan berangkat berjalan kaki ke Ngarai Sianok melihat Sunrise, karena masih pagi.. Masuk ketempat Panorama masih gratis, kalau siang udah harus beli tiket.
Lalu,Tampa pikir panjang, perjalanan menggunakan oto (angkot) untuk menuju koto baru dimulai. Setelah ganti angkot, wah… Kami lanjut ke koto baru - padang panjang yg dapat ditempuh dalam waktu tak lebih dari satu jam perjalanan. Di koto baru, kami periksa perbekalan dan tak ketinggalan beli nasi bungkus asli padang berlauk Balado telur khas Koto baru. Supir angkot yg ternyata sudah sering mengantar pendaki ke Puncak antena, dengan basa-basi, menawarkan untuk mengantar kami sampai di pos pendakian. Pak supir berpesan kepada kami “nggak boleh ngomong kotor digunung ini ya”
Jam 08:00 pagi, kami sudah tiba di pos pendakian, gedor gedor.. Karena penjaganya masih terlelap tidur, ah.. bangun juga dia dan ternyata tiket pendakian per orang Rp. 2000. Dari sini, kami memulai trekking yg menurut banyak orang, mendaki gunung Marapi bisa ditempuh dengan waktu tempuh 4 jam.
Sepenjang perjalanan setelah melewati kebun penduduk, beberapa kali bertemu jalur yg bersimpangan, kami ambil jalur kanan terus..jalurnya lumayan landai dan setelah mulai masuk vegetasi hutan belukar, jalur mulai terlihat mendaki.. Wow, disini kami menemukan banyak sekali tanaman markisa yg uennak dan bikin seger itu.
Jam terus berjalan, kami terus melangkahkan kaki dan jalur mulai terjal dan ternyata setelah melewati semak belukar..belum ketemu “bonus”.. Dan terlihat banyak sekali tempat yg bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Kami terus melangkah, terkadang beberapa kali harus break and rest, karena jalur lumayan terjal.
Sepanjang perjalanan mendaki, kami tak menemui hewan liar, kadang - kadang terdengar suara burung dikejauhan berkicau riang, yg mengherankan adalah sepanjang jalur pendakian ternyata banyak sekali sampah-sampah non organik.. Apalagi kalau ada tempat nge-camp.. Sampah plastik bisa dijumpai sepanjang jalur pendakian.. Dalam hati, mungkin pesan pak supir tadi menjadi “nggak boleh ngotor digunung ini”. Dan.. Setelah 3 jam perjalanan mendaki, akhirnya kami tiba di batas hutan.. Dari sini mulai mendaki menuju puncak, jalur pendakian yg terlihat terjal dibebatuan.. Ternyata tidaklah terlalu sulit, karena jalurnya dibuat zig-zag. Dan spektakuler sekali, inilah pemandangan yg mengejutkan, puncak gunung ini termasuk indah sekali.. Dan lumayan luas.. Ada lapangan besar berukuran 3 kali lapangan bola, pikirku.. Wah, bisa main bola nih, dipuncak gunung ini..dan terlihat ada 3 kawah yg sangat aktif dan 4 kawah lainnya terlhat tak langit mengasap.
Siang, terik matahari mulai memanas dan angin bertiup sepoy-sepoy, akhirnya kami tiba juga di puncak Merpati, yg menurut banyak orang puncaknya memang mirip dengan merpati yg sedang terbang. Dari puncak ini, pemandangan lumayan bagus, terlihat jelas danau singkarak dan beberapa pegunungan yg ada disekitarnya. terlihat pendaki lain sedang asik membuat grafiti dengan pilox nya, mencari jati diri, atau ingin pamer tentang jati diri.. entah lah.. Bayu yg menegur, tak terlalu dihiraukan… prrrooooootttt….. batu tak bisa lari dari semprotan tangan jahil.. pamer ttg kelompoknya.
Kami tak mau berlama-lama dipuncak ini, lalu melanjutkan turun ke arah taman edelweis, tapi menutuskan kembali karena bau belerang yg menyengat. Setelah melewati lapangan pasir, yg menurut pendaki lain seperti di bulan, Disini kami memutuskan untuk makan siang dengan nasi balado.. Hmm.. makan nasi padang di puncak gunung..
diluar dugaan, atau memang dibuat demikian.. Nasi Padang lauk balado ternyata pedas tenann, membuat kami kepedasan di gunung merapi, A’a yadi menambahkan 4 bungkus nutri sari ke nasinya, ternyata tetep pedas saja… ” nggak jadi deh, pacaran ama ce - padang, makanannya pedes banget”.. ketus yadi.
Jam 01:00 siang, matahari mulai menyengat, kami mulai memutuskan untuk turun dan berharap tiba sore hari di koto baru. sepanjang perjalanan turun, tak ada pemandangan indah.. kecuali sampah yg lumayan banyak, dan tak banyak berhenti untuk turun, membuat kami terlalu cepat tiba dimana ada jembatan bambu, di atasnya ada mata air yg jernih.. disini kami memasak dan membuat kopi, hmm… sambil ngobrol dengan pendaki asal Pekan baru, yg juga mau turun.
Perjalanan dilanjutkan, sambil ngobrol.. tak sadar, kami kesasar lumayan jauh, karena lupa.. memperhatikan apakah ada jalur yg kekiri, akhirnya memutuskan untuk kembali.. dan menemukan jalur yg benar.. sore menjelang, akhirnya kami tiba di pos pendakian.. dan langsung menumpang kendaraan bak terbuka pengangkut sayuran sampai di Koto baru lagi.
dari koto baru, kami naik angkot untuk kembali ke Bukit tinggi, belum lama angkot melaju, kedubraaakk….. alamak, Angkot yg kami tumpangi di cium sama truck, kami kaget…. dan, penyok deh…
ganti mobil lagi, tampa bayar.. dan akhirnya menjelang sore kami tiba di bukit tinggi dan langsung ke ngarai Sianok lagi, menunggu Sunset.. sunsetpun tak terlihat sore itu..
note:
Marapi, gunung ini lumayan indah.. tapi gunung ini bisa dibilang gunung sampah, karena sepanjang perjalanan banyak sekali ditemui sampah yg berserakan.. walaupun dipuncaknya bisa main bola, tapi… tak ketinggalan grafiti of love dilakukan oleh mereka yg suka pamer kelompok dan organisasi.
Gunungnya mirip sekali dengan Gunung welirang, sama-sama aktif, tapi digunung ini tak bisa menghasilkan Batu belerang.. lama waktu pendakian, bisa dibilang sama dengan gunung merapi di Jawa tengah, kalau cerita mistisnya…. ah, saya rasa mungkin berbeda!! yg sama mungkin, gunung menjadi tempat bersemayan Setan dan Iblis!, juga Mahkluk ghaib lainnya…… entah lah!
##kunlun
Ucapan terima kasih..
-Allah Swt
-Jenny Irma, yg udah sibuk membelikan logistik
-Rommy … yg paling sibuk membantu kami di hotel Jogja
-Temen-temen Tim Kerinci.
-Pak Supir angkot, yg sudah mengantar kami ke Antena -Belukar, yg kami sempet nyari Markisa… dapet 1 doang.
-dll