Photos

    IMG_9727.jpg IMG_0072.jpg IMG_0892.jpg
  • Pages

    • 2008 Exploration
    • About Us
    • Archive
    • Contact Me
    • Photography
      • Odesya Exploration
      • Travel Photography
  • Mount Welirang - Arjuno apa beda backpacker sama tourist? Petualang Ziarah Inside Baduy menjadi pmulung di taman nasional gede-pangrango Ujung Kulon Eplore Desa Taman Jaya - Ujung Kulon Kongkong di Gunung Bawakaraeng Ngintip Owa di Taman Nasional Gunung Halimun Only picnic on Mt. Arjuno; and mt. Welirang The RoadHome from mt.Kerinci Meru Betiri Jungle Trekking Customize your trip Ujung Kulon JUngle Trekking Krakatoa Volcano Hiking Lombok - Komodo Sailing and Flores Overland Trekking di Jalan Aspal Taman Nasional Alas Purwo Desa Taman Jaya - Ujung Kulon Perjalanan Ke Desa Wisata Sawarna Kupang - Pulau Rote - Nembrala Beach
  • Categories

    • Article (11)
    • Ecotourism Destination (9)
    • Exotic Destination (12)
    • Gunung (18)
    • Hutan Cagar Alam (5)
    • Ngoceh Ngarang (2)
    • Others (4)
    • Petualangan (15)
    • Program (5)
    • Taman Nasional (17)
    • Trip on Schedule (1)
  • Blogroll

    • Odesya Exploration Photo
    • Plugins
    • Themes
    • WordPress Planet

« Meru Betiri Jungle Trekking
Only picnic on Mt. Arjuno; and mt. Welirang »

The RoadHome from mt.Kerinci

January 28th, 2008

 

BECAUSE it’s there. Itulah jawaban almarhum George F Mallory, seorang pendaki kawakan asal Inggris, ketika ditanya kenapa suka naik gunung.

 

Boleh saya pelintir sedikit, because it’s there untuk menyebut tempat perlindungan terakhir bagi satwa sumatra tiger, gajah, siamang, satwa lainnya dan burung-burung… Yg hanya punya rumah terakhir di hutan di kawasan pegunungan bukit barisan..

Taman Nasional Kerinci seblat, disebut-sebut sebagai perlindungan terakhir dan juga sebagai paru-paru bumi yg punya luas 1,3 juta ha.

 

The RoadHome, judul cantik dari film ttg seorang guru di dataran tinggi di china.. Film itu, adalah hadiah saya buat bugulu. Sewaktu lagi berusaha keras mengenal bugulu. Bercerita ttg pengorbanan guru… Dan keteguhan hati.. Juga ttg kematian..

 

Setelah bolak-balik sms kang harley, tarik ulur pemesanan tiket

airplane, dikarena tujuan kekerinci yg sudah lama ada di otak saya, sedikit mengalami benturan ketika sudah menikah.

Akhirnya bugulu memutuskan untuk ikut di event ini, dan diluar

dugaan…eventnya menjadi “climb for peace”, yg saya pernah katakan ke beberapa teman.. Mungkin saya tidak bisa ikutan di event tersebut. Termasuk ketika Kak leha menelpon saya.

 

Airplane, bagi bugulu.. Ini adalah untuk yg pertama kalinya berpetualang menggunakan alat transportasi tercepat abad ini. Airplane juga dituding sebagai penyebar “germ, viruses” tercepat abad ini.

Jakarta - Padang hanya butuh waktu 1 jam 20 menit, terlalu cepat dibandingkan dengan naik bus yg butuh waktu minimal 26 jam.

 

Dibandara padang, sambil nunggu harley dan yg lainnya, wah.. Jadi kenalan dengan kan jose dan franki dari shabawana yg ternyata berbarengan dengan harley dkk.

Setelah rembukan dg temen-temen, mobil travel akhirnya datang juga..

 

Dari padang ada banyak minibus kecil yg siap mengantar langsung ke kayu aro bertarif Rp. 35.000 per kepala.

Kalau minbus ban nya pecah, ketika menanjaki jalan berliku, mungkin karena jumlah kami dan barang-barang bawaan terlampau banyak.. Entah lah.

 

Tengah malam tiba, kami akhirnya sampai juga di kersik tuo, mencari penginapan bu paiman.. Dan setelah rembukan.. Akhirnya kami memutuskan untuk mendaki sesuai dengan jadwal yg sudah di planningkan.

Tak seperti biasanya, perjalanan kali ini.. Lebih banyak memilih cara gampang, ketimbang jiwa berpetualang.. Melihat jalan aspal menuju pos pendaftaran di R.10, kami memutuskan carter mobil saja.

 

Pagi hari yg indah, sinar matahari bersinar terang, pendakian pun di mulai. Sepanjangan perjalanan, dengan jumlah kami.. Yg menurut saya menjadi tidak ideal, ditambah 3 porter.. Jumlah kami menjadi 16 orang.

 

Suara nyanyian alam mulai terasa, burung berkicau riang dan suara siamang mulai beraksi yg raungan melengking di kejauhan, bugulu bertanya.. Suara hewan apa sih itu?

Aku bilang itu suara siamang sedang mencari cinta, tapi hadirnya kita disini.. Suara siamang kian menjauh, dan saya bilang.. Kalau jumlah kita sedikit.. Siamang bisa dilihat dari dekat dan tak akan lari melihat kita.

 

Setelah melewati jalan mendaki, terkadang menanjak dan melewati berbagai jenis vegetasi hutan, akhirnya kami tiba di selter 2 sore hari. Sementara hujan rintik-rintik mulai turun.

Ketika pagi menjelang, kami mulai siap mendaki ke puncak.. Bagi saya puncak bukanlah tujuan utama, yg utama adalah melihat kawah.. Maklum aku menyukai mendaki gunung berapi, karena ketertarikan dengan ilmu vulcanology.

 

Di selter 3, angin mulai bertiup kencang, dan dalam pendakian kali ini.. Saya harus tetep mengawal bugulu yg menurut saya jalanya terlalu lambat.. Bersabar, walaupun terkadang bugulu sesekali ngambek. Semakin mendaki, semakin kencang angin bertiup dibarengan hujan es sesekali hadir, ketika temen-temen memutuskan berhenti, menunggu…

Tak tau apa yg terjadi, bugulu mulai merasa kedinginan sekali.. Lalu aku coba untuk memasukkan tanggannya ke tubuhnya yg memang masih hangat.

Sebatang rokok ku nyalakan, sambil sesekali berdiri mengamati keadaaan sekitar, dan ternyata.. Tak hanya angin kencang di bareng hujan es, tapi.. Angin mulai melintir tanda badai sedang berlangsung. Aku tetep bertahan, dan setelah bugulu mulai mengeluhkan keadaannya, aku memutuskan untuk membawanya turun. Perjalanan turun, dibarengi badai angin bercampur hujan dan pasir, aku bilang” kita harus tetep jalan turun apapun yg terjadi”.

 

Ketika tiba di selter 3, aku lihat erwin di belakang ku.. ” win, ayo

balik lagi.. Aku pikir, bugulu sudah safe ketika berada di selter 3″.. Ah, ego harus dikendurkan sedikit..

 

Bang Tigor dan porter ternyata sedang membakari sampah-sampah yg berserakan di selter 2, lumayan pikirku untuk menormalkan kembali suhu tubuh bugulu.

Sementara beberapa temen, terus melanjutkan perjalanan menuju puncak, kami mulai siap packing untuk turun.

Sementara matahari mulai condong kebarat tanda sore akan segera tiba. Perjalanan turun, sedikit lambat..bagi saya, tapi bagi bugulu adalah terlalu cepat..

 

Malam mulai tiba, kami masih dihutan… Suara burung hantu mulai bernyanyi, beberapa hewan kunang-kunang terlihat beterbangan. Akhirnya, kami semua tiba di ujung aspal…dengan selamat.

 

Sambil menunggu mobil yg janji akan menjemput kami, beberapa temen membuat api unggun, aku mencoba mengobrol dengan penduduk sekitar yg ternyata akan mengangkut hasil Panen kentang.

 

Ditemani api unggun hangat, obrolan santai dimulai.. Lumayan.. Berbagi cerita dan akhirnya kami ditawari naik mobil miliknya.

Ketika tiba di penginapan bu Paiman, walah…. Ramai sekali, langsung ngobrol dengan temen-temen pangrango!! Yg sebagian besar saya sudah kenal.. Terus akhirnya berkenalan dengan temen-temen OGKL..Bidar, dll

Dapet fasilitas space deket kak leha euy… Di tanya ini itu..

Dan……..

 

Akhirnya, ketua kami memutuskan untuk pindah ke penginapan Pak subandi saja.

Bobo deh, bangun kesiangan… Dan…..

 

Lanjut ke danau gunung tujuh!! (ceritanya nyambung ya..!!)

 

The RoadHome tetap menjadi pilihan terbaik…apalagi untuk berpulang kerumah Allah swt.

 

Wassalammualaikum wrb

This entry was posted on Monday, January 28th, 2008 at 11:01 am and is filed under Gunung, Taman Nasional.

Leave a Reply

Powered by WordPress with White as Milk Theme designed by Azeem Azeez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS.