Only picnic on Mt. Arjuno; and mt. Welirang
January 28th, 2008Thursday, February 13, 2003 5:30 PM
Arjuno dan welirang adalah event penting yg saya masukkan di my event, seperti yg saya bilang, menunggu tanggal merah nongol, karena tanggal merah nongol dibulan februari bertepatan dengan hari raya Idhul Qur’ban, akhirnya niat lama untuk mengunjungi kawasan pegunungan arjuno-welirang akhirnya terlaksana juga.
pegunungan arjuno - welirang adalah pegunungan yg terbentuk dari aktifitas vulcanology, yg memiliki 4 gunung bertype strato vulcano. mt arjuno, kembar 1, kembar 2 dan mt. welirang.
setelah sibuk kirim email untuk event kali ini, kang Zul dan kang toni toen akhirnya memutuskan bergabung di event kali ini walaupun tampa temen-temen, event ini tetap dilaksanakan karena saya akan mendaki bareng sahabatku di lawang. tampa konfirmasi bertele-tele, Jum’at sore 07 februari 2003 kami ketemuan berikut keril di stasiun gambir menuju surabaya.
tak seperti biasanya dalam perjalanan menggunakan kereta bisnis gambir-pasar turi obrolan malam tak terlalu dipedulikan sementara kang leo, dias, kang arthur dan mba’ susan sudah siap menunggu kedatangan kami di stasiun pasar turi - sby di pagi yg cerah sabtu 08 february 2003.
mobil yg dijanjikan kang leo untuk mengantar kami ke lawang, jalur utama yg akan kami coba kunjungi, tapi karena mba lia sudah mengundang kami untuk ketemuan, mobilpun bergerak ke grand palace hotel, ngobrol-ngobrol sambil dilengkapi breakfast.. wow.
sabtu 09 february 2003 09:00, kami mulai berangkat menuju pasar lawang dimana kang kunbhu sudah dengan sabarnya menunggu untuk melakukan perjalanan ke kaki gunung arjuno lewat jalur timur. jam 11.30 pagi kami tiba di lawang. setelah sholat dhuhur, perjalanan mulai dilanjutkan menuju kebun teh.
jalur lawang yg menurut banyak sumber sangatlah berat dan lumayan mendaki dan tidak tersedianya sumber air, membuat adrenalinku menggebu untuk mengetahui jalur lawang. tak peduli lagi dengan himbauan, pokoknya tetep lewat lawang turun tretes.
di pos pendakian tak ada penghuninya, kata yudha tampa ijinkan naek lewat jalur lawang bukanlah suatu masalah, maklum semua resiko menjadi milik pendaki itu sendiri.
Hujan rintik-rintik, para pemetik teh beraktifitas di perkebunan milik PTP yg tampak menghijau. dari sini kami mulai melakukan perjalanan yg mulai mendaki sementara hujan mulai turun dan payung ajaibpun mulai dikibarkan, untunglah hujan tak berlangsung lama, setelah lebih dari 4 jam perjalanan melewati perkebunan teh, lalu memasuki hutan cemara dan tiba ditanjakan terjal dipadang rumput sementara hari mulai sore, kami memutuskan untuk bermalam di padang savana yg lumayan luas. pemandangan indah terlihat menjelang malam.
seperti biasanya, karena sudah kecapean obrolan malam tak berlangsung lama, sementara tiupan angin mulai sedikit kencang. tak sadar setelah tengah malam angin bertiup lumayan kencang seolah-olah tenda kami ingin terbang dibawa angin. terdengar suara gaduh temen-temen lain yg ternyata anak-anak malang juga akan mendaki.
malam ini angin mbak badai tapi walaupun sedikit mengkhawatirkan, tetep bisa tidur lelap dan pagipun telah tiba sinar mentari begitu indahnya.
minggu 09 february 2003 06:30 pagi, kami mulai melanjutkan perjalanan, naek lewat jalur ini memang sedikit membutuhkan extra energy, sepanjang perjalanan hampir dipastikan tak ada jalur yg datar, sementara puncak arjuno sesekali tampak terlihat jelas. sepanjang perjalanan cuaca tampak cerah dan tak ingat berapa kali harus break and rest. setelah melewati beberapa padang sabana, lalu hutan cemara lalu kami mulai memasuki hutan lali jiwo, hutan yg sedikit mengandung banyak cerita mistis.
segerombolan monyet-monyet bergelantungan di pohon-pohon tinggi dan tampak panik melihat kedatangan kami.
kalau saja dia bisa bicara dengan kami mungkin dia akan ngomong ” hi human, what are looking for on my home? you want burning my home again? ”
entahlah, yg jelas hutan yg hanya tertinggal sedikit ini, tak bisa lari dari kata kebakaran hutan. ini terlihat dari menghitamnya kayu-kayu yg sudah tak mampu lagi untuk bertahan hidup.
tak ada kicau burung di hutan lali jiwo yg hening, yg ada beberapa nyamuk nakal membuntuti perjalanan kami, beberapa nyamuk bisa kami pastikan tewas karena kedatangan kami.
hari mulai condong ke barat tanda sore, kami sudah keluar lagi dari hutan lali jiwo, dan kembali hutan cemara yg kaki-kakinya bekas terbakar. sementara hujan rintik-rintik mulai tiba dan kamipun sudah tiba di camp terakhir yg biasanya disebut “plawangan”, puncak arjuno mulai terlihat dekat. disini kami memutuskan bermalam kembali baru keesokan pagi melanjutkan perjalanan menuju puncak arjuno.
senin 11 february 2003 05:00 pagi, kami telah sudah terbangun sunrise pagi telah tiba dengan indahnya dibalik pegunungan bromo tengger semeru, sesekali semeru menyemburkan wedus gembelnya. wah indahnya cuaca pagi ini. setelah sarapan pagi dan packing telah siap, perjalanan yg terus mendaki menuju puncak arjunopun dimulai. pemandangan indah sepanjang perjalanan yg lumayan berat memberikan semangat untuk mencapai puncak arjuno 3339 mdpl.
ketika padang rumput mulai kami tinggalkan, bebatuan besar mulai tampak terlihat jelas tanda puncak arjuno mulai dekat, banyak sekali grafiiti disini, hampir semua batu yg sudah lama terdiam tak bisa lari dari coretan - coretan tanda kecintaan pada gunung ini.
kami tak bisa berlama-lama ketika kaki berpijak pada puncak arjuno, hujan lebat mulai turun pertanda kami harus cepat untuk meninggalkan puncak ini. kang zul bilang” walah perjalanan panjang dipuncaknya tak lebih dari lima menit untuk menikmati puncak arjuno yg lumayan sedikit kotor oleh graffiti.
hujan belum nampak reda, perjalanan turunpun dimulai dan setelah melewati tanjakan terjal menuju jalur tretes. hutan cemara dikawasan ini pun terlihat bekas terbakar.
setelah melewati beberapa hutan cemara, telapak tangan terlihat menghitam karena berpegang pada pohon-pohon yg terbakar, lalu kami memutuskan mendirikan tenda darurat sementara hujan terun deras. masak sebentar sementara siang hari mulai berlalu.
perjalanan melewati rumput-rumput yg baru saja belajar untuk tumbuh, tujuan utama adalah pondokan penambang di pinggangan gunung welirang 3156mdpl.
jam 02:00 lewat dikit, karena perjalanan lumayan mendatar kami sudah tiba di pondokan, sementara temen-temen dari SMU islam singosari sudah tiba duluan di pondokan. terlihat banyak tumpukan batu belerang hasil kegiatan penambang tampak terlihat didepan pondokan.
merasa waktu masih cukup untuk mencapai puncak welirang 3156 mdpl, tampa pikir panjang keril kami titipkan ke temen-temen dipondokan dan perjalanan menuju puncak berharap sore hari tiba dipuncak pun dimulai. setelah perjalanan kurang dari 2,5 jam. akhirnya kami tiba dipuncak welirang, cuaca tampak cerah dan matahari bersembunyi dibalik gumulan awan yg putih tampak indah. pemandangan beberapa pegunungan terlihat jelas. wah, indahnya nyore dipuncak gunung yg umumnya jarang dilakukan para pendaki.
angin mulai bertiup kencang dan lumayan dingin, gunung kembar 1 nampak masih mengepulkan wedus gembelnya. kami mulai turun dan berharap sebelum malam hari tiba, kami sudah tiba di pondokan penambang belerang.
terlihat jalur penambang yg tak pernah lelah mendorong gerobaknya dijalur sepanjang jalan menuju puncak welirang.
malam mulai tiba, bintang - bintang terlihat indah.. kami semua melihat ada bintang jatuh. malam ini, kami menumpang tampa ijin di salah satu pondokan milik penambang. setelah makan malam, dimalam yg tak terlalu dingin tidur nyenyak. beberapa tikus gunung bermain-main didekat kepalaku, terkadang tikus berlompatan diatas punggungku. wah, dipondokan banyak tikus yg mencoba mencuri sedikit makanan yg tersisa.
dipondokan penambang, aku bisa membayangkan bagaimana kehidupan para penambang belerang berjuang untuk bertahan hidup yg hanya sekali ini. gerobaknya untuk membawa belerang turun dari puncak welirang rodanya masih terbuat dari kayu. betapa sulitnya hidup sebagai penambang belerang. walaupun kali ini aku tak bisa menyaksikan langsung aktifitas penambang dikarenakan para penambang lagi pada turun ke desa untuk merayakan hari raya Idhul Qur’ban.
tak terasa, pagi selasa 11 february 2003 telah tiba, cuaca tampak berawan tanda hujan mulai akan turun. setelah packing perjalanan turun menapaki jalur-jalur penambang kami lanjutkan. sepanjang perjalanan tampak jalur terlihat lebar sekali, bekas roda gerobak penambang terlihat jelas disepanjang perjalanan turun menuju tretes.
di kamp kokopan, tempat penampungan belerang sementara untuk selanjutnya diangkut dengan jeep. terdengar gemericik air membuat aku pengen mandi. walah enak tenan mandi digunung.
perjalanan terus dilanjutkan menelusuri bebatuan terjal dan terlihat jeep pengangkut hasil tambang sedang menanjak perlahan-lahan. mereka seperti menarik sapi agar jeep bisa tetep menanjak, sesekai terdengar suara mesin jeep tua meraung-raung ditanjakan-tanjakan terjal.
perjalanan turun mulai mempengaruhi mental karena melihat ada jeep yg tadi lewat mulai turun. akhirnya kami ditawari untuk menumpang jeep yg telah bermuatan lebih dari 1,5 ton batu belerang.
perjalanan menegangkanpun dimulai, jeep terseok-seok melewati bebatuan. aku dan yudha nangkring diatas. terkadang bikin hati sedikit merintih karena ketakutan kalau saja jeep akan masuk jurang. setelah melewati turunan-turunan dan tikungan-tikungan terjal. akhirnya kami tiba di hotel surya dimana terdapat pos pendakian jalur tretes memberikan pengalaman tersendiri.
setelah mandi lagi, makan siang dan beres-beres terus sambil nonton stiker-stiker yg nampak berhimpitan di mading pos pendakian tretes. perjalan dilanjutkan ke pandaan.
dipandaan, kami mulai pisahan dengan yudha. yudha bilang kapan mas, mau ke argopuro lagi? wah…
kami bertiga lanjut ke Bungurasih dan langsung pesen tiket pahala kencana ke jakarta. kang zul memutukan untuk naik pesawat.
abis.. ah, ceritanya jadi kepanjangan nich..
-Kunlun
indefendent mountaineer.
yg menarik, adalah “After sunrise on arjuno summit and
before Sunset on Welirang summit”..itulah event kami kali ini, walaupun kang zul kira, welirang itu tempat wisata.. enak juga nyore di puncak gunung….pemandangan bagus..
walaupun, aku agak sedikit bersedih…full graffiti and “sampah”.
wajar, kalau di pos pendakian ada msg” bawalah sampah anda turun atau telan saja sampahmu” pos pendakian penuh dengan setiker..
special thanks..
Allah swt, yg selalu mengingatkan aku,selalu melindungi dalam segala perjalanan kali ini.
Buat Mas Leo, dias, susan dan Mas Arthur yg sudah dengan sabar menunggu kami dan bertemu dengan Mba’ Lia.juga sudah mengantarkan kami ke lawang dan sampe ke kebun teh.
Buat Mba’ Lia, walah suasana akrab dan bersahabat.. dan nggak tau harus bilang apa untuk “breakfastnya”..kita sampe nggak makan siang lagi lho..Oh ya, bakpia, sampe dipuncak arjuno kita lupa potret kuenya, soalnya pas nyampe puncak langsung turun hujan.
pemandangan bagus waktu mau menuju puncak arjuno.
Buat khumbu himal yg ramah, walah…hehehe, wis aku bingung mau ngomong apa, kecuali utk yg kedua kalinya ngetrek bareng Kunbhu himal memang punya rasa tersendiri.
Kang Zul, atas susinya dan Kacang jepangnya.. terus berikut sup siap saji, wow…mantap.
Pemilik gubuk dipondokan penambang (nggak tau yg punya siapa) pokoknya kami berterima kasih udah dapet tumpangan tampa ijin bermalam di gubukmu yg indah dan damai itu.
Jeep eot, aku lupa nama siapa supirnya.. yg jelas turun tretes jalur lumayan bikin mental jatuh.. dan walaupun dengan beban berat 1.5 ton belerang, kami masih diberi tumpangan sampai ke Hotel Surya, walaupun sedikit sangat menegangkan,,, wow, ngeri oey.. jeep terseok-seok dibebatuan yg turunan
lumayan terjejal..dan bikin hati mulai merintih tanda sedikit takut. tapi ini memberikan pengalaman tersendiri.
Jalur Lawang, memang jarang sekali digunakan pendaki.
umumnya hanya anak-anak malang yg suka jalur ini.
Buat temen-temen SMU Islam Singosari-mlg yg kayaknya kita balapan naik lawang-turun tretes sudah dengan sukarela mau dititipi karil-keril kami.
Bullsack by reptil
Payung dipinjemin sama my best friend on office