Ngintip Owa di Taman Nasional Gunung Halimun
January 28th, 2008The land under the rainbow, ini kata yg pantas untuk sebutan lain mengartikan nama lain dari Taman Nasional Gunung Halimun. Masyarakat sekitarnya menamai gunung halimun yg artinya gunung yg selalu berselimut kabut. Taman nasional Gunung halimun adalah tujuan utama kami dalam event dadakan karya besar kang reptil bersama pemilik Landrover kang Jayus. Kenapa TNGH lebih cocok dengan sebutan The land under the rainbow?
Jum’at o4 april 2003, Malam mulai tiba, aku dan erwin sudah nongol duluan di rumah kang Iwan reptil cuk siap dengan daypack kecil made in Reptil. Sambil menunggu kawan-kawan terutama Kang Jayus dan heru tak ketinggalan mba jenny Irma yg seorang arkeolog pernah bekerja di situs ratu boko juga sebagai paparazi cantik.
Landrover bawaannya kang jayus made In England bertype 4X4 rakitan Tahun berapa ya ? Aku lupa… Jam 09:30 malam sudah tiba di showroom reptil. Tampa pikir panjang dan Team reptil (karena semuanya pada pake product reptil, excl jenny) sudah siap berangkat menuju Kawasan selatan Jakarta.
Malam yg dingin, landrover ternyata kok berjalan mundur ya di toll jagorawi, di tengah laju kencang kendaraan lainnya. Landrover ternyata tak bisa di kebut dengan kecepatan 140 km/jam. Ledekan kang iwan pun nyeletuk ” kok mobilnya berjalan mundur ya?”
Tujuan kami malam ini adalah menginap semalam di Saung cantik berdiri diatas kolam ikan, aku nggak tau apa nama daerah itu. Pokoknya arah kiri jalan ke sukabumi. Tengah malam menjelang pagi, kami tiba di saung kang jayus.. Wow, saungnya ternyata ada perpustakaan nasional berhaluan kiri kanan majujalan.. Hehehe.
Sabtu pagi o5 april 2003, perjalanan dilanjutkan menuju ke Taman nasional gunung halimun yg menjadi tujuan utama kami. Taman nasional yg punya luas 40.000 ha lebih, di resmikan sejak tahun 1992 dan memiliki keanekaragaman mulai dari satwa, tumbuhan dan tak ketinggalan budaya dan kampung kecil hidup berdampingan dengan damai di national park ini.
Setelah melewati jalur panjang, lewat pasar cicurug yg macet itu, menjelang siang kami tiba di Balai Taman nasional gunung halimun. Tapi ternyata kantor balai tertutup untuk umum pada hari sabtu dan Minggu. Perjalanan dilangsung dilanjutkan untuk mencapai tempat utama tujuan kami. Stasiun penelitian alam cikaniku.
Jalan berbatu yg lumayan terjal, aku pikir si landrover bakal masuk lumpur dan bakal gaya offroad, ternyata jawabanya salah. Sepanjang perjalanan menuju kawasan taman nasional Gunung halimun, rutenya tergolong sangat bagus, mobil kijang aja bisa kok apalagi landrover.
Perjalanan lebih dari 1,5 jam melewati jalan berbatu, akhirnya kami sampai di Stasiun penelitian cikaniku. Bangunan indah bergaya jepang yg memang hasil dari sumbangan Japan Development Asisten. Terdapat tempat yg bisa digunakan untuk para pengunjung umum. Disini tempat kami menginap.
Suara kicau burung dan suara-suara hutan menyambut kedatangan kami, karena masih sore. Kami memutuskan untuk menjelajah canopy trail dan hikinng kecil di hutan belakang stasiun penelitian cikaniku. Kunlun mulai menapaki tangga-tangga kecil dan mulai beraksi menyeberang jembatan ayun (canopy trail) yg di buat dari pohon ke pohon yg tinggi. Sungai kecil terlihat di bawahnya.. Wah!!! Ngebet pengen cepet mandi euy di sungai itu.
Setelah jelajah canopy, kami melanjutkan perjalan melewati tanjakan kecil di puncak bukit di perkebunan the nirmala agung, lalu menuju ke air terjun cimacan, yg menurut guide dari TNGH, tempat tersebut memang menjadi komunitas macan tutul yg hanya tinggal sedikit. Kali ini, karena kunlun tidak menggunakan standar hiking di hutan, pacet kecil mencoba mencuri sedikit darahku.. Uh!!! Pacet…
Malamnya, sementara aku dan kang reptil ngantuk pengen bobo, temen-temen paparazi yg doyan potret… Memilih untuk memotret jamur yg katanya kalau malam bersinar terang.
Minggu o6 april 2003, pagi yg gelap… Tumben pada nggak ada yg kepengen sunrise, sambil menyiapkan makan pagi nasgor special bikinan mba’jenny.. Hmmm.. Uenak tenan telah siap di meja makan yg indah. Obrolan singkat dengan petugas dari BTNGH memberikan pengetahuan sedikit dengan keberadaan Taman nasional ini.
Pagi ini, perjalan hiking dibantu oleh landrover dimulai. Perjalanan dilanjutkan mengunjungi kampung citalahab. Kampung yg damai dekat dengan sungai yg jernih. Di kampung ini tersedia fasilitas homestay berikut camping ground yg dikelola oleh masyarakat sekitar.
Perjalanan dilanjutkan hiking lagi menuju air terjun yg lokasinya lumayan terisolasi, menjelajah hutan yg lumayan alami, menyeberang sungai kecil dan…alamak!! Kang jayus, heru dan Jenny sempat terpisah dengan kami. Setelah menunggu lumayan lama, ternyata mereka mengarah ke jalur menuju Kampung Abah Anom yg terkenal itu, perjalanan melalui hutan TNGH untuk sampai ke kampung abah anom perlu 8 jam lebih, wow.. Hiking yg menarik nih pikirku.
Hiking ke air terjun kali ini, melewati hutan tropis lebat dan lumayan basah, suara owa, hewan langka yg dilindungi di TNGH ini terdengar di kejauhan.. Bisa ngintik owa dong! Ternyata suara owa makin menjauh tanda hadirnya kami. Ngintip owa, elang jawa dan pengamatan burung-burung termasuk yg ditawarkan dalam hiking berwawasan ekoturism di TNGH.
Disamping itu ada juga jalur trekking ke Gunung kendeng, persis berdekatan dengan Gunung halimun, katanya memberikan keindahan tersendiri, walaupun waktu kami tak cukup untuk trekking ke gunung kendeng.
Siang hari mulai condong ke barat, kami akhirnya tiba di air terjun alami yg dijanjikan oleh guide kami. Ternyata benar-benar alami dan terlihat jarang sekali orang yg mau berkunjung ke tempat ini. Airnya sangat jernih beberapa ekor ikan paray berlompatan kesana kemari.. Aku pun kepengen mandi. Kunlun mandi sendirian.. Sejuk dan segar, sebagian orang percaya air yg bersih bisa bikin awet muda.. Hehehe.
Perjalan melewati hutan-hutan basah, aku pake celana pendek.. Selalu setiap saat mengawasi kaki memastikan apakah ada pacet yg mulai mengisap darahku!? Ternyata tak satupun pacet doyan kakiku kali ini.
Sore menjelang, kami semua sudah tiba kembali di stasiun Penelitian cikaniki, sementara deadline time sudah berakhir tandanya kami sudah harus check out dari cottage mahal made in Japan ini.
Pamitan terus photo-photo, dalam hati berbisik.. Sampai kapan ya tempat ini akan tetap seperti ini, tak ada tangan-tangan nakal yg suka bikin graffiti disini, semua nampak alami dan…. Hmm…. Nggak tau apakah 10 tahun lagi TNGH akan rusak parah seperti TNGP? walLaHuaklam….
Perjalanan melewati jalan berkelok dan terombang-ombingnya Landrover, perutku mules dan pengen muntah.. Ah? Mungkin karena belum makan siang euy..
Taman nasional Gunung halimun, pantas dapat sebutan “The land under the rainbow”, karena masyarakat hidup damai bersama Hutan, tumbuhan, satwa di kawasan ini.. Tidak ada arogansi juga yg kami rasakan adalah keramahan dan kearifan baik pengelola juga masyarakatnya.. Juga alamnya.
Goodbye, and I will be there..”The land under the rainbow”,
-Kunlun
Special thanks…
-Allah swt, yg selalu mengawasi dan melindungi dalam setiap langkahku.
-Kang jayus dan Landrovernya yg kalau jalan di Toll kok terlihat mundur ya? -Kawan-kawan semua terutama Kang Reptil yg tak cengin abis.. Maklum biasanya Kunlun selalu kena ceng ceng, sama kawan-kawan seperjalanan via milist.. Topic ttg upit, tak lagi terdengar dalam perjalanan kali ini.. Yang ada, aku di taksir sama reptil.. Hehehe
-Mba’ jenny, ma’afkan aku ya, suka membelakangi camera FM2 mu itu..
-pak Dedeh, guide kami yg baik dan wow… Sopan dan ramah… Juga nggak berisik..
-Sungai cikaniki… Tempat aku numpang mandi … Di intip sama kang reptil..lama sekali aku nggak mandi disungai…
-Burung-burung yg sudah bernyanyi di pagi hari …. Dan nyanyian suara alam.. Terutama suara Tonggerek!!! Musik paling bagus yg pernah diputer di radio TNGH
-Reptil product (backpack,daypack, sleeping bag dan reptilcuk).
-