Mendaki Gunung Latimojong
July 28th, 2003Pegunungan latimojong di kabupaten enrekang sulawesi selatan, yg mempunyai puncak tertinggi bernama RanteMario 3478 mdpl, menjadi event panjang kami yg tergabung dalam komunitas alam bebas highcamp.web.id Event lama, yg juga kami berharap mendapatkan sponsorship dalam kegiatan pendataan dan penggalian informasi pegunungan di indonesia, akhirnya bisa kami katakan sukses untuk melakukan kegiatan ini. Sulawesi, dalam peta dunia memiliki keunikan yg berbeda dibandingkan pulau-pulau lainnya di Indonesia, dari jenis kebudayaan, alam dan tentu hewan liar yg hidup di pulau tersebut.
Kuningan 25 juli 2003 sore.
Semua team berkumpul di pasar festival untuk membeli kebutuhan logistik dalam perjalanan kali ini. Sekaligus technical meeting terakhir.
Siap berangkat!
Soekarno hatta airport, 26 Juli 2003 jam 12:30 siang, team kami sudah berkumpul untuk terbang dengan menggunakan pesawat kelas ekonomi Lion Air, menurut info yg kami dapat, perjalanan menuju Bandara Hasanudin di tempuh dalam waktu 2 jam. Seperti biasa, gaya pendaki terlihat sekali dengan keril - keril besar terlihat jelas diantara ratusan penumpang pesawat. Kebetulan dukungan peralatan disediakan oleh Reptil backpack membuat warna dan bentuk keril kami semuanya sama, merah menyala! Wow, bagusnya.
Selamat datang di sulawesi.
Berkurang 1 jam dari waktu jakarta, akhirnya pesawat landing dengan lembut di bandara International Hasannudin - Makassar, sore mulai menjelang.. Papan besar betuliskan “selamat datang di Makassar”, ini pertama kali aku menginjakkan kaki di pulau yg lebih dikenal dengan nama Selebes Islands. Sesuai dengan harapan kami, karena Junior Chamber Indonesia (JCI) bersedia membawa kami menuju Baraka, tampa pikir panjang, Hendri sibuk mengontak rekan yg akan menjemput kami, Pak Rahim ternyata sudah siap dengan mobil kijangnya untuk mengantar kami menuju Baraka yg terletak di kabupaten Enrekang.
Jam 16:00 wit,
Mobil mulai melaju melewati batas kota kabupaten Marros, dan mulai masuk ke Kabupaten Gowa, dipasar Goa, aku dan jeany memncari beberapa keperluan logistik tambahan. Perjalanan menuju baraka, bukanlah sebentar, ketika malam mulai datang waktu menunjukkan 18:50 petang, di tepian pantai di daerah Pangkajene, kami makam malam di restoran yg menyediakan Ikan khas Bandeng tawar.. Hmm… Enaknya, sotonya juga enak sekali. Tengah malam mulai tiba, ketika masih berada di wilayah Sidandrang - Rappang, pak Rahim coba membeli obat sakit kepala, dan ternyata.. Kata pemilik warung, jalur menuju Enrekang tidak lewat jalur ini, karena kalau malam hari, biasanya banyak masyarakat yg menghadang Mobil yg melewati jalur ini. Akhirnya kami kembali lagi untuk menemukan jalur ke Enrekang. Setelah menempuh 2 jam perjalanan dan akhirnya kami tiba diwilayah kabupaten Enrekang.
Selamat datang Baraka.
Menjelang pagi, kami akhirnya tiba di baraka, kota kecamatan, dimana ditempat ini, digunakan oleh para pendaki yg akan mendaki ke pegunungan latimojong untuk mendapatkan ijin di Kapolsek Baraka. Dari kecamatan ini pendakian baru dimulai. Karena Malam, berkat bantuan pak Toto, preman plus keamananan ps. Baraka, beliaunya yg mambantu kami untuk menginap di Penginapan guru-guru, baru esok pagi melapor ke Polsek baraka.
Baraka, pagi yg segar 27 Juli 2003 08:00.
Hendri mulai mengurus ijin pendakian, sementara Pak toto sibuk mencarikan kami ojeg, karena Mobil Jeep yg akan kami carter ternyata sedang digunakan. Tujuan berikutnya adalah desa terakhir dengan nama Karangan. Siang mulai beranjak, setelah tawar-tawar harga, akhirnya kami sepakat menggunakan jasa Ojeg untuk cepat sampai di Buntu dea, desa terakhir yg bisa di capai dengan kendaraan roda dua. Karena Naik ojeg, backpack reptil kami yg sudah di packing rapi, akhirnya harus di bongkar lagi, untuk di pindahkan kedalam karung. Walah pikirku, keril bagus tak laku toh!
Raungan sepeda motor menapaki jalanan terjal menanjaki bukit-bukit curam, terkadang rasa takut sesekali hadir, jalan mulai becek dan berkubang, setelah menempuh perjalanan offroad Ojek lebih dari 2 jam, akhirnya kami tiba juga di Desa Buntu Dea tepatnya didaerah perbatasan yang bisa dijakau oleh kendaraan bermotor, dan setelah Packing ulang lagi, kami siap menapakan kaki menuju desa Karangan, yg menurut banyak orang diperlukan lebih dari 6 jam perjalanan.
Suara gemericik air di lembah, menjadikan perjalanan disiang yg panas jadi menyenangkan ditambah lagi pemandangan sekeliling yang dipagari oleh jejeran pegunungan, membuat kami semangat untuk mencapai desa terakhir, melewati Desa Latimojong atau desa rante Lemo, kami menyempatkan untuk mampir di rumah Pak kepala Desa, tapi.. Hari itu pak kepala desa sedang tidak ada, dan setelah makan siang di masjid, kami melanjutkan perjalanan menuju Desa karangan.
Sore hari,
akhirnya Tiba juga di Dusun karangan. Dusun kecil di tepian sungai dan lembah, Dusun inilah menjadi Dusun terkahir di kaki pegunungan latimojong. Di Dusun ini, kami disambut dengan ramah, beberapa penduduk mengharapkan untuk bermalam dirumahnya. Rencananya kami akan menginap di rumah kepala dusun, akan tetapi ternyata beliau juga tidak ada dirumah, akhirnya kami memutuskan bermalam di rumah Pak Sinu, yg ternyata sudah sering untuk mengantar pendaki menjajaki pegunungan latimojong. Malam harinya pak kepala kampung datang kerumah pak Sinu, dan kami bercakap-cakap tentang dusun Karangan dan Latimojong.
Trekking dimulai
Dusun Karangan, penduduknya umumnya bertani tanaman keras seperti Kopi, Coklat, dan tanaman keras lainnya, dari dusun ini pendakian akan kami mulai. Setelah bermusyawarah dan akhirnya kami memutuskan untuk memulaikan pendakian dini hari, Jam 04:00 pagi 28 Juli 2003, kami mulai meninggalkan Dusun Karangan. Pagi yg gelap, senter mulai dinyalakan, sementara gongongan anjing melonlong menembus subuh yg dingin. Perjalanan pada awalnya menyusuri sungai Salu Karangan kemudian sampai pada sebuah jembatan yang terbuat dari batang kayu gelondongan, setelah itu jalan mendaki kami menempuhnya begitu bersemangat, jalan berkelok dan mendaki terkadang menurun terjal, akhirnya kami tiba di Pos 1, pos yg terletak diatas sebuah punggungan. tepat dipinggiran sungai besar yg jernih. Setelah melewati punggungan Pos 1 kami dihadapkan pada jalanan menurun yang cukup tajam serta melipiri punggungan, terkadang kami harus berpegangan pada akar pohon untuk keseimbangan karena jalan setapaknya tiba-tiba putus kena longsor. Setelah sampai didasar lembah kami akhirnya mencapai Pos 2 yang terletak ditepi sebuah kali besar dan dipagari oleh tebing yang mirip goa. Pos Ini sering dipakai untuk tempat bermalam oleh pendaki, jika mereka memulai perjalanan dari Karangan pada siang hari. Dari pos inii, kata pak Sinu perjalanan yg sesungguhnya dimulai, perjalannya katanya akan lumayan Gawat, sepanjang jalur mulai terjal mendaki, terlihat dari jalan setapak dari pos 2 ini berada disisi tebing dengan kemiringan 80 derajat bahkan pada bagian tertentu ada yang 90 derajat. Kami dihajar oleh tanjakan maut ini selama kurang lebih satu jam tanpa bonus. Diperlukan kehati-hatian yg tinggi, terkadang menepis jurang yg dalam, dengan berusaha sekuat tenaga. beberapa pos telah terlewati, sementara kaki mulai melemas tanda tak kuat jalan, akhirnya menjelang sore hari, kami tiba di Pos 5, dimana di Pos ini tersedia mata Air. Disini, kami memutuskan untuk bermalam, baru keesokan harinya melanjutkan pendakian. Ternyata mata Air yg dijanjikan, sangat jauh, perjalanan turun yg terjal tak menyurutkan niat untuk mandi di sungai yg jernih. Sementara temen-temen memasak dan mendirikan tenda, kami tak pernah berhenti menanyakan seberat apa jalur berikutnya yg akan kami lalui.
Pagi lagi, 29 Juli 2003 jam 05:30 pagi,
kami semua mulai bersiap untuk memulai pendakian yg panjang. Setelah mencapai pos 6 medan mulai terbuka dan kami dengan bebas bisa melemparkan pandangan kesekeliling, tanpak puncak Nenemori berdiri memanjang, akhirnya menjelang siang hari, kami tiba di Pos 7, biasanya disini pendaki bermalam sebelum melanjutkan ke puncak tertinggi di sulawesi. Setelah makan-makanan kecil dan melihat sungai kecil yg ada di Pos 7, akhirnya kami melanjutkan perjalanan untuk mencapai lapangan savana yang dinamakan juga perapatan, kami meninggalkan ransel disini dan dengan bermodalkan daypack yang merupakan bagian dari ransel kami yang memang didisain khusus oleh Reptil kami mulai menapaki jalan menuju puncak tertinggi Sulawesi yaitu Rante Mario. .
Tiba dipuncak RanteMario
Dengan langkah sedikit melemah, sementara temen-temen sudah duluan melakukan perjalanan menuju puncak, aku dan jeany dengan langkah yg lemas terus berusaha untuk mencapai puncak yg ternyata lumayan jauh dari lapangan savana, dan melewati medan berbatu dan terbuka, setelah beberapa kali break, Alhamdullillah, Kami semua tiba dipuncak dengan pemandangan yg berkabut.
Puncak Rantemario tak sama dengan puncak-puncak gunung berapi di jawa, karena pegunungan latimojong memiliki banyak puncak, dan puncaknya yg indah masih bisa ditumbuhi oleh vegetasi alam. Dipuncak ini luas sekali, sayang karena sudah siang mencapai puncak kabut sudah menutupi puncak, alhasil pemandangan kami terbatasi.
Setelah mengambil beberapa gambar, tentang kondisi puncak tertinggi di sulawesi yg punya nama Rante Mario yg menurut altimeter kami menunjukkan 3478 Mdpl, kami semua memutuskan turun dan akan melanjutkan perjalanan menuju puncak tertinggi kedua bernama nenemori.
Siang mulai condong, perjalanan menuju puncak nenemori menurut Porter kami, dibutuhkan satu hariu perjalanan melewati jalur yg yang turun naik puncak tanpa nama serta jalurnya tak jelas lagi terlihat. Dibeberapa jalur yg kami lewati, sesekali kami menemukan bekas kotoran Anoa, hewan yg dilindungi dan termasuk Hewan yg berbeda di dunia, dan hanya akan ditemukan di pulau sulawesi. Anoa, kini mulai teramcam punah karena gencarnya perburuan terhadap hewan yg mirip seperti sapi, hanya saja anoa memiliki tanduk yg bagus. Dalam perjalanan mendaki terkadang menurun ini, sepanjang jalur hanya terlihat Hutan yg kayu-kayunya ditumbuhi lumut-lumut yg tebal, terkadang kaki terjeblos ke dalam lumut yg dalam. Menerobos hutan memberikan pengalaman tersendiri dalam perjalanan menuju Nenemori, peta yang kami bawa menjadi tidak berarti karena kabut sudah menutupi kawasan puncak-puncak pegunungan Latimojong dan menyulitkan kami untuk berorientasi tapi untunglah porter kami yg pandai sekali menggunakan peta mentalnya yang sduah terekam dengan baik dari hasil perjalanan berburu yang sering dia lakukan, akhirnya menjelang sore hari, setelah menerabas melipiri gigiran punggungan sebuah puncak tanpa nama yang ogah kami lewati karena perhitungan tenaga dan waktu, akhirnya kami tiba di pos 4 tepat di kaki gunung NeneMori. Disini kami memutuskan bermalam dan keesokan harinya baru dilakukan perjalanan mencapai puncak Nenemori. Sementara Zul dan Hendri Sibuk mengurusi kaki dengan Counter pain sedangkan Jenny dan Abi lagi memasak makanan alakadarnya dari persediaan air yang ada (disini ngga ada air .red) pak sinu bikin api unggun buat mengusir nyamuk yang banyak sekali. Bermalam di ketinggian lebih dari 3100 mdpl, memberikan cerita tersendiri, sementara hutan-hutan lebat menutup langit dan matahari pagipun tak begitu terlihat.
Tiba dipuncak Nenemori
30 July 2003 jam 06:00 pagi,
setelah packing peralatan kami, perjalanan menerobos hutan dipegunungan latmojong dilanjutkan. Perjalan tetap tidak melewati jalur, karena sepanjang perjalanan jalur pendakian telah lama menghilang, setelah menempuh perjalanan lebih dari 2 jam, akhirnya kami semua tiba di puncak tertinggi kedua di sulawesi yg bernama Puncak Nenemori 3339 mdpl. Puncaknya lumayan kecil, vegetasi hutan sampai kepuncak ini, pemandangan sangat indah, awan putih terlihat diam di tepian pegunungan yg memanjang di pegunungan ini. Kami tak berlama-lama di puncak ini, setelah mendata kebaradaan puncak ini, kami memutuskan untuk langsung turun menuju Pos 3, dipos ini tersedia mata Air.
Di Pos 3, kami makan besar, semua perbekalan kami masak untuk menyiapkan perjalanan turun yg panjang dan terjal.
Selamat tingal pegunungan latiMojong.
Siang hari yg panas, setelah makan siang, perjalanan turun menuju dusun karangan mulai dilanjut! Dalam perjalanan turun, yg ternyata jalurnya masih terlihat, karena jalur ini sering digunakan untuk para pemburu Anoa, awalnya terlihat landai menepi dipinggiran tebing yg dalam, lalu…
Dari sini, menurut porter, perjalanan akan terus menurun sampai ke pintu Hutan.. Walah, pikirku. Ini lebih berat ketimbang mendaki. Dalam perjalanan menuruni bukit yg panjang, tak ingat yang jelas keadaan jalan setapak yang jarang ditempuh membuat jalannya berlumut dan banyak sekali rotan yang melintang menghalangi jalan. Turunannya terjal sekali dan tanpa bonus mendatar serta tidak ada sumber mata air. Mungkin ini salah satu penyebab Nenemori jarang dikunjungi oleh pendaki.
Selamat datang kembali di Karangan,
Dusun terkahir bernama karangan mulai terlihat, ketika sore kami semua tiba di perkebunan penduduk, perjalanan masih terlihat panjang dan masih menuruni turunan terjal, Ketika tiba di sebuah pondok kecil di perkebunan kopi, aku terheran melihat Jeanny yg berjalan mundur, ternyata jeany mengalami keseleo di kaki kirinya. Berkat bantuan porter kami yg ternyata pandai memijit, dan dengan bantuan tongkat, jeany tetap bisa berjalan walaupun lambat menelusuri turunan terjal mengikuti alur sungai, Menjelang maghrib tiba, akhirnya dengan langkah gontai tanda kami kelelahan, Tiba di Dusun karangan. Alhamidullillah, kami semua selamat tiba di Dusun Karangan. Sambutan bocah-bocah kecil bermain di lapangan, tak lepas dari jepretan kameraku, wah, lumayan. bocah bergaya dengan ala anak desa dipegunungan.
Bermalam di Rumah Pak Sinu,
Kami memutuskan untuk bermalam dirumah pak Sinu, aku, Hendri dan Abi langsung ngebut ke sungai untuk Mandi, sementara Pak Sinu dan keluarga sibuk menyiapkan Makan Malam, dan kebetulan aku memesan untuk di potongkan Ayam, makan Ayam bakar malam ini, Sementara Hendri dan Zul pergi ke rumah Pak Kepala Dusun untuk meminta bantuannya menyediakan Kuda untuk membawa barang-barang kami esok hari, aku sibuk memanggang Ayam.
Pagi, 31 Juli 2003 05:30
aku sudah terbangun, tampa pikir panjang.. pengen lagi untuk mandi di sungai yg jernih, baru setelah itu kami semua berkemas untuk melanjutkan perjalanan kaki yg nyaman tampa keril yg berat menuju desa Buntu dea.
Selamat tinggal karangan.
Pak Kepala Dusun begitu sibuk menyiapkan karung dan kudanya, Keril besar kami dimasukkan ke Karung untuk dinaikkan di atas Kuda, tak ketinggalan, Pak sinu mencari kudanya yg masih berkeliaran di sekitar dusun untuk membawa Jeany, yg kakinya masih terasa sakit.
08:00 pagi,
kami mulai meninggalkan Dusun terkahir di kaki pegunungan latimojong, selamat Tinggal latimojong dan salam perpisahan dengan keluarga Pak Sinu! Perjalanan dengan lenggang, serasa berjalan diatas angin karena kami hanya menggendong Backpack kecil yg memang dirancang khusus untuk attach summit dan perjalanan santai.
Pagi yg cerah, kami semua begitu semangat untuk berjalan, tak ketinggalan untuk memotret, sementara jeanny sedikit panik diatas Kudanya yg sedikit nakal, terkadang kuda kalau ketemu rumput, berusaha untuk menyempatkan sarapan pagi, walaupun sambil dipaksa untuk berjalan. Setelah perjalanan lebih dari 2 jam perjalanan, kami semua tiba di desa Buntu Dea, seperti yg kami janjikan sebelumnya, Ojeg yg mengantar kami akan menjeput kami kembali.
Jam menunjukkan 10:00 pagi,
Team ojegpun ternyata menepati janjinya, setelah berpamitan dengan Pak Sinu dan Pak Kepala Dusun, kami kembali melakukan perjalanan dengan ojeg, dalam perjalanan, Rem sepeda motor yg ditumpangi Zul, ternyata blong.. wah, bisa nyebur ke jurang nih, pikirku.
Mendekati siang hari, kami semua tiba di polsek baraka!
Di Polsek Baraka
Polsek baraka hari ini terlihat ramai, ternyata sedang ada kunjungan Kapolres Enrekang, kami semua disambut baik dan setelah bercakap-cakap dengan bapak kapolres, dan sambil menunggu transportasi ke Makassar yg dijanjikan oleh Pak Rahim, ternyata pak Kapolres Enrekang yang bernama Pak Udung ini adalah seniornya Hendri, maka jadilah percakapan semakin akrap, bahkan kami di undang untuk Makan siang di rumah kapolsek Baraka, dan karena Mobil yg dijanjikan tak kunjung datang dan hendri telah mencoba menghubungi kontak kami!
Berkat bantuan Pak Usman, Ditserse Baraka, akhirnya kami memutuskan untuk mengcarter mobil menuju Makassar.
Jam mulai menunjukkan 15:30 sore,
kami mulai meninggalkan Kec. Baraka dan mobil pun mulai melaju menuju Kota Makassar. Sepanjang jalan keluar menuju Cakke kami disuguhkan oleh pemandangan alam berupa tebing-tebing yang indah sekali yang dikenal dengan nama Tebing Tontonan, disini juga terdapat kuburan kuno ala Toraja, yang menurut ceritanya adalah asal dari orang Toraja adalah didaerah Tontonan ini, karena pengaruh islam akhirnya mereka pindah ke daerah yang sekarang. Hanya sayang sekali kuburan tersebut sepertinya tidak terawat. Kami beberpa kali berhenti untuk mengambil photo. Melewati jalan menuju Makassar kami disuguhkan oleh pemandangan yang indah sekali. Yng paling menarik adalah Gunung Buntu Nona, kenapa dibilang Buntu Nona karena bentuk dari gunung tersebut sangat mirip sekali (maaf) dengan alat kelamin wanita. Sedangkan di sebelah kanan jalan tegak berdiri dengan gagahnya Tebing Bambaapuang.
Selamat di Makassar!
Mba Amalia dari Junior Chamber Indonesia sibuk mencarikan tempat untuk kami bermalam, jam mulai mendekat 10 malam, kami tiba di terminal panaikang, tampa pikir panjang, kami naik taxi menuju hotel Venus di Kota makassar, kota yg merupakan Kota terbesar untuk kawasan Indonesia timur, lumayan hidup kota ini! Di hotel venus, kami diajak untuk makam malam oleh Mba Amalia, dan menjelang malam, masih menyempatkan untuk melihat Video kegiatan kami, walah hotel yg menggunakan faciltas AC dan air panas, ternyata banyak nyamuknya!Karena kelelahan, tidur lelappun tak terasa pagi pun tiba.
Jum’at 1 agutus 2003, kali ini acara bebas.
Aku yg kebetulan di jemput Bugulu, memutuskan untuk mencoba mengujungi pulau-pulau kecil diantaranya pulai lai-lai, Kayangan dan Pulau samalona, tak lupa untuk menyempatkan berenang dan sambil memnacing di laut, semnatara henri, Zul, Abi dan Jeany mengunjungi kabupaten marros untuk melihat air terjun batimurung,
Malamnya kami diundang untuk Makam malam bersama Pak Ricky, juga berkeliling Kota Makassar yg indah,
Sabtu 2 Agustus 2003,
kami mulai beranjak dari hotel. Aku dan bugulu melakukan pendakian dan pendataan MT. Bawakaraeng di kabupaten Gowa yg menurut Masyarakat adalah Gunung paling populer di Sulawesi selatan dan palin sering dikunjungi para pelaku alam bebas khususnya para kelompok PA di Sulawesi,
Hendri, Zul dan Jenny berkemas meinggalkan Kota Makassar untuk Terbang ke Jakarta, Tak ketinggalan Abi pun memajukan Tiketnya untuk pulang sore itu.
Terimakasih Allah, telah memberikan Mataku untuk melihat Alam ciptaanMU,
Tuhan Bersama orang-orang yg berani, tertulis di Kaos Oblong yg dipakai Pak Kepala Dusun Karang, masih teringat di benakku.
Kalau saja, aku tinggal di Sulawesi, pegunungan di Sulawesi cocok sekali untuk jalur trekking lintas pegunungan yg menakjubkan juga menantang bagi para penikmat Alam.
This story, take inpiration from Zen Explorations
Sulawesi selatan, 26 Juli 2003 - 04 Agustus 2003