Inside Baduy
February 4th, 2008 Perjalanan backpacking bareng odesya kali ini kami pengen hidup bersama anak-anak baduy dalam, karena kesal dengan pemilihan bupati tangerang karena saya sebagai warga kok nggak dapat kartu pemilih,
tampa pikir panjang dan tampa persiapan bertele-tele, minggu 20 Januari 2008 kami berangkat dengan kendaraan umum menuju balaraja, dari balaraja saya + zahraa 3 tahun + my mom melanjutkan perjalanan ke Rangkas Bitung tariff nya sekarang masih Rp 6000,
sampai di Rangkas terminal lama, perjalanan lanjut dengan angkot menuju terminal AW, lho kok nggak ada yg langsung ke koranji? ternyata angkutan umum sudah di pindahkan ke terminal baru. dari terminal aw kami mencari angkutan umum menuju parigi.
menjelang siang, akhirnya setelah menunggu lama, elf nya berangkat juga lama perjalanan hampir 3 jam, menjelang sore tiba di simpang koranji. karena pengen kejar waktu langsung naik ojek ke Nangerang. sampe nangerang dengan berbekal sarung bag, saya gendong zahraa mulai hiking untuk tujuan cibeo.
Cibeo, termasuk kampung baduy dalam yang terkenal dan sering di kunjungi, melewati beberapa kampung baduy luar dan lintas desa baduy dalam Cikatawarna yang hening, menjelang maghrib sepi banget kampung ini, nyampe juga di cibeo.
di sambut kerumunan anak-anak baduy dalam menjadi pengalaman unik bagi zahraa, awalnya bingung dan panik, lalu mulai belajar bermain dengan anak-anak baduy dalam, kami memutuskan bermalam di rumah ayah sang-sang, tadinnya pengen bermalam di rumah pak sardi atau yasrip, tapi karena nggak ada orang nya dan pada tinggal di Saung.
melihat sungai, zahraa mulai keranjingan pengen mandi di sungai, dan hmm… kok nggak ada TV yach, kata zahraa ketika malam mulai tiba.
obrolan main di temani musik kecapi khas baduy dalam, memberikan suasana yang sangat berbeda.
kebetulan baduy dalam mulai musim duren, ah.. pak yasrip ternyata nongol juga dia membawakan 2 buah durian, karena cape, tidur lelap sesekali zahraa menanyakan tentang kok nggak ada kasur yach.
pagi-pagi, zahraa sudah mulai bergegas untuk mandi di sungai lagi, sampe nggak mau pulang. menjelang siang kami berangkat menuju saung ayah sangsang, dan memutuskan bermalam di saung, baru keesokan harinya kami akan hiking kembali lewat jalur ciboleger.
di saung, zahraa punya teman baru, Imas namanya berkali-kali zahraa belajar mendaki bukit kecil, naik gunung nih dan bisa main perosotan dengan teman baru, menghabiskan 1 hari bersama keluarga baduy sedikit memberikan pemahaman tentang hidup dengan 1000 aturan adat yang ketat.
makan siang hanya di temani nasi + pakis tumis, karena ternyata masuk kawalu, orang baduy dalam di larang ngambil rebung bambu makanan kesukaaan ku.
Perjalanan hampir 3 jam, di pagi yang cerah bikin bener-bener cape deh, karena saya harus menggendong zahraa.
siang hari, kita sudah sampai lagi di rumah.
2 malam di baduy, banyak pengalaman baru bagi zahraa. mandidi sungai, berteman dengan anak-anak baduy, melihat padi yang menghijau dan melihat bentang alam baduy yang indah, walaupun momennya tidak bisa di abadikan dengan Photo, karena ada larangan untuk memotret di baduy dalam’