Archive for the 'Gunung' Category

« Previous Entries
Next Entries »

Kongkong di Gunung Bawakaraeng

Monday, January 28th, 2008

Gunung Bawakaraeng terletak di dalam taman nasional Lompo Batang yang berada di dalam wilayah kabupaten Gowa. Di dalam peta gunung ini tidak tercantum, karena mungkin Bawakaraeng hanya dianggap salah satu puncak dari pegunungan yang berada di dalam taman nasional Lompo Batang. Ada dua jalur yang biasa digunakan untuk mencapai puncak Bawakaraeng. Yaitu melalui desa Lembana dan Kasoso. Desa Lembana berada dalam kecamatan Tinggimoncong dan berjarak kurang lebih 7 km dari tempat wisata Malino. Sedangkan desa Kasoso berada dalam wilayah kecamatan Manipi, kabupaten Sinjai Barat. Ada sebuah lembah bernama lembah Cina yang adkan dilewati jika melalui Kasoso.

Nama gunung Bawakaraeng itu sendiri berasal dari bahasa makasar Bawa dan Karaeng. Bawa artinya mulut dan Karaeng artinya tuhan, sehingga dapat diartikan Bawakaraeng berarti mulut tuhan. Tak ada sebab yang pasti mengapa gunung ini diberi nama seperti itu, hanya dari cerita penduduk yang diketahui bahwa pada zaman dahulu ketika masa kerajaan Gowa masih berjaya ada seorang tokoh agama yang pergi haji ke tanah suci melalui puncak Bawa Karaeng dibantu malaikat. Ada cerita versi lain yang mengatakan pada masa lampau ada seseorang yang sangat ingin naik haji, lalu dia mendapatkan bisikan untuk mendaki puncak Bawakaraeng sebagai ganti hajinya. Wallahu a’lam mana cerita yang benar, namun yang pasti sampai saat ini masih banyak penduduk Gowa yang pergi haji ke puncak Bawakaraeng pada bulan Haji. Mungkin gelarnya “Haji Bawakaraeng”, hehehe.

Puncak Bawakaraeng memiliki ketinggian 2705 mdpl. Pada pendakian kali ini kami melalui desa Lembana. Desa lembana berjarak kuarang lebih 75 km dari kota Maksar dan dapat ditempuh menggunakan pt-pt selama 2 jam, melewati sebuah bendungan besar, bendungan bili-bili.
Untuk tiba di desa Lembana dari kota Makasar naik pt-pt jurusan Sungguminasa, lalu berganti kendaraan ke arah Malino dengan
biaya Rp. 8000 perorang. Jika beruntung kita bisa berhenti
langsung di depan base camap. Namun jika tidak, harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 1 km menuju desa ini dari pemberhentian terakhir angkutan. Desa ini berada pada ketinggian 1400 m. Ada banyak basecamp rumah penduduk yang dapat digunakan beristirahat di desa Lembana. Di desa ini juga ada sebuah air tejun. Untuk mencapai puncak Bawakaraeng melalui desa Lembana setidaknya ada tiga bukit dan 9 pos yang harus dilalui Tak ada nama khusus yang diberikan untuk setiap pos.

Secara umum jalur dari base camp menuju pos 5 cukup mudah, sedikit menanjak dan banyak bonus. Melewati hutan semak yang tidak terlalu rapat. Jarak antar pos tidak terlalu jauh, dapat ditempuh dengan berjalan santai rata-rata dalam waktu ¾ jam setiap posnya. Jarak antara pos 5-6, mungkin yang terpanjang, disini jalur agak kurang jelas karena banyak pohon yang tumbang akibat kebakaran hutan. Kami sempat tersesat di sini. Dari pos 6 ke pos 7 jalan menanjak, pos 7-8 menurun. Pos 8-10 terus menanjak. Air dapat ditemukan di pos 3, 5, 8 dan puncak. Namun di pos 5 letak sumber air agak jauh.
Biasanya para pendaki berkemah di pos 8, karena posisinya yang dekat dengan sumber air dan tempatnya luas.

Setelah beristirahat selama sejam di basecamp, jam 16.30 WITA kami memulai perjalanan melewati kebun sayur, kali kecil, lalu masuk dihutan pinus bersemak. Tak sampai sejam kami sudah sampai di pos 1. Beristirahat sebentar, perjalanan dilajutkan kembali, melewati banyak semak. Pos 2 terlewat, lalu kali kecil. Adam menawarkan untuk memasak, belum lapar jawabku. Perjalanan di lanjutkan kembali, langit masih cukup terang. Ketika sampai di pos 4, keadaan sekitar sudah gelap. Setelah senter dinyalakan kami lanjutkan perjalanan.
Dari pos 5 sudah terlihat pemandangan kota Malino dan Makasar dikejauhan. Dalam perjalanan ke pos 6, baterai Adam padam, Ical menyalakan lampu badai sebagi penggantinya. Di sini kami sempat kehilangan arah karena banyaknya pohon yang tumbang akibat kebakaran hutan, tapi dengan dengan cepat Ical berhasil menemukan jalur yang benar. Dari Pos 7 pemandangan tampak lebih indah, apalagi malam itu langit begitu cerah, bintang bertaburan, bahkan Milky way pun terlihat jelas. Kami sampai di pos 8 sekitar jam setengah sebelas, ada beberapa tenda yang sudah berdiri di sana.
Tiba-tiba seekor anjing putih muncul. Menurut Ical anjing ini sudah sering ikut naik ke Bawakaraeng. Setelah makan malam, masakan “koki Mandar” Adam. Kami langsung bergelung sleeping bag. Suhu malam itu mencapai 100 C, cukup dingin.

Esok pagi kami terbangun pukul 06.00, langit sudah terang. Kunlun mencoba mengabadikan matahari yang mengintip dari balik dedaunan.
Setelah sarapan roti bakar dan minum segelas susu kami siap menuju puncak, waktu baru saja menunjukkan pukul 07.00. Dengan hanya membawa dua buah daypack kecil kami lanjutkan perjalanan. Jalan menuju puncak melewati pinggir-pinggir jurang, dikejauhan tamapk aliran sungai dan lembah Ranma, salah satu jalur yang dapat dilewati melalui Kasoso. Kabarnya lembah itu indah dan cocok untuk berkemah.
Setelah hampir satu setengah jam melewati jalan yang terus menanjak akhirnya pucak Bawakaraeng di depan mata. Ada cukup banyak pendaki yang sedang berada di puncak dan anjing yang kami temui semalam tampak ikut menikmati pemdangan di puncak Bawakaraeng. Sebelum mencapai puncak ada sebuah mata air di tanah yang agak lapang. Konon katanya mata air ini tidak pernah kering dan berkhasiat sebagai obat, mungkin obat haus, heheheh.

Puncak bawakaraeng cukup luas, mungkin bisa menampung lebih dari 50 orang. Di sana ada sebuah tugu kecil yang menandainya. Jam 08.30 WITA kami sampai di sana. Dari puncak Bawakaraeng, ke arah Barat dapat dilihat kota Makasar beserta teluknya, serta lembah Ranma juga sebuah air terjun. Jika malam hari tentu, lampu-lampu di kota Makasar akan menambah indah pemandangan. Di arah utara terlihat terlihat Bulu Sarobaiya. Bulu berarti gunung dalam bahasa Makasar.
Sementara pengunungan Lompobatang tampak mendominasi di arah Selatan. Puncak yang indah.

Setelah hampir sejam kami di puncak, menikmati keindahannya sambil meneguk segelas teh manis hangat, kami kembali ke pos 8. Perjalanan kembali memakan waktu lebih singkat.

Setelah makan dan packing, jam 12 tepat kami memulai perjalan kembali ke base camp. Dalam perjalan pulang kami sempat bertemu satu rombongan “umroh”. Pukul setengah empat kami sudah berada di pos 3, ketika kami sedang melepas lelah datang serombongan “pendaki lokal”
lainya yang bermasksud menuju puncak. Ada lebih dari 30 orang yang terdiri dari orang tua dan anak-anak. Rombongan ini juga di berhenti di pos untuk melepas lelah dan sholat. Sebuah pemandangan yang langka, namun menyedihkan. Setelah cukup beristirahat perjalanan dilanjutkan kembali. Pukul 17.00 kami tiba di base camp. Rencananya malam itu kami menginap di basecamp. Udara terasa cukup dingin.
Malam itu kami dijamu keluarga, sayang saya lupa nama keluarga tersebut. Fitri biasa memanggil ibu pemilik rumah denga Mamak saja.
Bahasa menjadi perbincangan yang menarik malam itu, Kunlun mencoba menghafal beberapa kata dalam bahasa Makasar.

Esok paginya pukul setengah delapan pt-pt yang akan membawa kami kembali ke Makasar tiba. Perjalanan kembali diisi dengan tidur, seperti biasa. Kami sampai kemabali di Sungguminasa pukul 10 pagi.
Setelah berpamitan dengan Fitri yang langsung pulang, kami lanjutkan perjalanan kembali ke sekretariat Trisula di kampus UNM. Sesampai di sana kami sempat ditraktir makan dan dikenalkan dengan beberapa kawan. Setelah saya siap packing, saya dan Kunlun langsung menuju bandara berburu tiket ke Jakarta, karena Kunlun harus segera masuk kerja. Alhamdulillah, akhirnya tiket kami berdua bisa dimajukan. Jam 13.00 dengan LION, Kunlun meninggalkan Makasar, sedangkan saya masih harus penerbangan jam 15.00.

Dengan menggunakan Mandala, saya kembali ke Cengkareng. Penerbangan kali ini, begitu indah karena dari kaca jendela pesawat saya bisa melihat dengan jelas pulau-pulau kecil yang berada di perairan laut sulawesi, bahkan saya bisa melihat beberapa bagian dari dasar laut yang dangkal. Setelah disajikan pemandangan laut, jejeran puncak gunung menjadi pemandangan selanjutnya dari puncak Tambora yang lebar, puncak Rinjani yang membuat rindu, lalu puncak Agung yang memanjang. Memasuki Jawa, terlihat puncak kembar Merbabu dan Merapi yang masih terus berasap, puncak Lawu, Sindoro Sumbing, Slamet, Ciremai dan akhirnya Gede Pangrango yang berselimut awan. Saya tiba kembali di Cengkareng pukul 16.30 WIB. Pukul 19.00 WIB kami tiba kembali di rumah, glad to be home, Alhamdulillah.

Bugulu

Puji syukur hamba tunjukkan hanya kepada Sang Maha Kekasih, ALLAh SWT. Hanya atas ijinNyalah, saya kembali bisa menikmati keindahan alam ciptaanNya. Terima kasih untuk selalu menemani dan menjaga hamba.

“Dream what u want to dream, go where u want to go, be what u want to be, because you only have one life and one chance to do all things that you want to do. But don’t let that’s all things make u forget ALLAH”

Posted in Gunung | No Comments »

« Previous Entries
Next Entries »

    Photos

    IMG_0293.jpg IMG_8719.JPG IMG_0951.jpg
  • Pages

    • 2008 Exploration
    • About Us
    • Archive
    • Contact Me
    • Photography
      • Odesya Exploration
      • Travel Photography
  • Mount Welirang - Arjuno apa beda backpacker sama tourist? Petualang Ziarah Inside Baduy menjadi pmulung di taman nasional gede-pangrango Ujung Kulon Eplore Desa Taman Jaya - Ujung Kulon Kongkong di Gunung Bawakaraeng Ngintip Owa di Taman Nasional Gunung Halimun Only picnic on Mt. Arjuno; and mt. Welirang The RoadHome from mt.Kerinci Meru Betiri Jungle Trekking Customize your trip Ujung Kulon JUngle Trekking Krakatoa Volcano Hiking Lombok - Komodo Sailing and Flores Overland Trekking di Jalan Aspal Taman Nasional Alas Purwo Desa Taman Jaya - Ujung Kulon Perjalanan Ke Desa Wisata Sawarna Kupang - Pulau Rote - Nembrala Beach
  • Categories

    • Article (11)
    • Ecotourism Destination (9)
    • Exotic Destination (12)
    • Gunung (18)
    • Hutan Cagar Alam (5)
    • Ngoceh Ngarang (2)
    • Others (4)
    • Petualangan (15)
    • Program (5)
    • Taman Nasional (17)
    • Trip on Schedule (1)
  • Blogroll

    • Odesya Exploration Photo
    • Plugins
    • Themes
    • WordPress Planet

Powered by WordPress with White as Milk Theme designed by Azeem Azeez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS.