Archive for August, 2002

Next Entries »

Mendaki Mahameru

Saturday, August 3rd, 2002

Monday, August 12, 2002 12:00 P***

Mt.Mahameru, termasuk gunung tertinggi di pulau jawa (3676 mdpl), salah satu gunung dari ratusan mungkin ribuan gunung yg memanjang di kepulauan nusantara dan salah satu gunung dari ratusan gunung api yg paling aktif di Bumi.

Sekitar 7 tahun lalu. aku sudah lupa tahunnya berapa, seingetku aku terakhir mendaki gunung ini, waktu itu turun lewat bromo dan setelah itu memutuskan untuk tidak lagi mendaki sampai batas yg belum bisa ditentukan, alasannya bagi banyak orang mungkin akan sangat tak masuk akal.

pendakian kali ini adalah pendakian yg kedua kalinya dan bagi Yudha, pendakian kali ini untuk yg ketiga kalinya. Yudha, mahasiswa ITS-surabaya semester akhir jurusan nggak tau (lupa nggak tanya). yudha adalah arek malang yg baru aku kenal dari sebuah malilinglist dan janjian ketemu di terminal arjosari - malang untuk trekking bareng ke mt.mahameru.

***

wedus gembel dalam arti sebagian kecil masyarakat sekitar merapi berarti asap yg keluar dan menggumpal dipuncak gunung berapi. wedus gembel akan diartikan menjadi bahaya merapi, bila wedus gembel mulai turun gunung, bukan kambing gunung yg turun gunung, karena gunung dipulau jawa sudah tidak ada lagi yg namanya “kambing gunung atau wedus gembel”.

Wedus gembel di MT Mahameru.

Pak Yono, hampir sebagian besar pendaki yg akan melakukan pendakian ke puncak Mt. Mahameru, akan mengenal Pak Yono. Pria gemuk suka berkaca mata hitam yg selalu nongkrong didepan ps. Tumpang. pak Yono, tak hanya menyediakan jasa penginapan gratis dirumahnya yg sempit, tapi pak Yono dengan suka rela mencarikan angkutan sejenis jeep atau truk sayur agar para pendaki bisa melanjutkan perjalanan menuju desa Ranupane.

Jam 14:20 kami tiba di ps.tumpang. disini tak ada pendaki lainnya kecuali aku dan Yudha, setelah ngobrol-ngobrol sama Pak Yono, ternyata dirumahnya ada 5 orang pendaki dari Jakarta yg sedang beristirahat.

atas saran pak Yono, akhirnya kami melakukan urun rembuk untuk berbagi ongkos bersama 5 pendaki tadi. maklum, masalah klasik lama untuk melakukan pendakian ke puncak mahameru adalah sulitnya transportasi umum ke desa ranu pane. jalur ini hanya bisa dilewati kendaraan four wheel drive dan truk sedang pengangkut sayuran.

setelah sepakat dengan tariff yg ditentukan, jumlah kelompok kami menjadi 7 orang pendaki. lumayan nambah 5 pikir kami dan kami bersedia jadi guide gratisan karena 5 pendaki ini tak ada satupun yg sudah pernah mendaki mt. mahameru. setelah berkemas kendaraan jeep tua taon 60-an melaju kencang dan tak seberapa lama kami tiba di desa gubuk klakah, jeep berhenti dan kami melakukan registrasi di Kantor pengelola TN Bromo Tengger Semeru.

setelah dibekali surat pengantar, Jeep kami melanjutkan perjalanan, jalan yg mulai menanjak melewati punggungan bukit dikiri kanan jalan adalah jurang yg lumayan dalam, ternyata sekarang jalan menuju desa ranu pane sudah sangat bagus, 90 % jalan dalam kondisi beraspal waktu tempuh relatif lebih singkat karena berkisar 2-3 jam. setelah melewati ngadas lalu jemplang dan tampak dari kejauhan gunung mahameru tampak gagah kawah jonggring seloko beberapa kali mengeluarkan wedus gembelnya. akhirnya menjelang matahari terbenam kami tiba di desa Ranu Pane.

Desa ranu pane yg dulu tampa listrik, kini sudah tersiada aliran listrik. beberapa rumah terlihat memiliki parabola yg lumayan besar.

seingetku, dulu untuk sampai di desa ranupane diperlukan waktu hampir setengah hari lebih.

***

setelah melaporkan ke Pos pendakian di desa ranu, sore hari begitu cepat untuk menjadi gelap. petugas Taman Nasional menyarankan agar kami sebaiknya menginap di pondokan pendaki. niat kami untuk melanjutkan perjalanan kaki ke Ranu kumbolo yg berjarak 17 km dari desa ranu pane dan bisa ditempuh selama kurang lebih 3 jam perjalanan terpaksa kami urungkan. pondokan gratis yg disediakan pengelola tampak sangat berdebu karena kemarau yg berkepanjangan sementara suhu udara mulai mendekati 7derajat celcius, disini kami menginap satu malam.

karena malas bongkar keril, kami berdua tidur tampa sleeping bag tampa jaket tebal padahal suhu udara mulai mendekati 5 derajat dan kami mulai merasakan dinginnya desa ranupane, ketika tengah malam kaki dan tanganku mulai terasa kaku, aku mencoba untuk keluar sendirian dan memandangi bintang-bintang yg tampak sangat terang dan ternyata di luar pondokan pendaki suhu telah mendekati 2 derajat celcius.

aku mencoba untuk tidur, sementara yg lainnya sudah lama terlelap tidur ada juga yg sempet tidur mengorok, duh nggak bisa terlelap mendengar desah ngoroknya teman-teman.

Tak terasa, pagi telah tiba jam menunjukkan 5:00 pagi kami mulai berkemas untuk melanjutkan perjalanan kaki menuju danau kecil bernama ranu kumbolo.

Perjalanan ke danau ranu kumbolo kami tempuh selama 4,5 jam, mengingat kami harus membimbing 5 pendaki lainnya, tak ingat berapa kali kami harus beristirahat mengingat 5 orang pendaki itu terlihat belum terbiasa dengan debu pasir di sepanjang jalan setapak yg kadang-kadang harus menanjak melewati beberapa bukit untuk sampai di danau ranu kumbolo. gunung mahameru kadang - kadang terlihat seolah mengiringi perjalanan kami. beberapa kali aku memberitahu mereka untuk selalu menjaga kerbersamaan.

Ketika tiba di ranu kumbolo, kami beristirahat untuk memasak dan makan siang aku sempet juga untuk mandi dulu, setelah merasa 2 hari belum mandi dan setelah semua selesai, kami berkemas kembali untuk melanjutkan perjalanan kaki untuk mencapai wilayah yg bernama arcopodo. arcopodo biasanya digunakan sebagai tempat mendirikan tenda sebelum memulai melakukan pendakian untuk mencapai puncak mahameru.

tengah hari baru saja berlalu, panasnya sinar matahari terasa menyengat kulit. kami kembali melanjutkan perjalanan. melewati tanjakan cinta yg kata sebagian orang dipercaya bisa mendapatkan sepasang kekasih bila tampa berhenti, membuat kami tetap saja harus beristirahat sejenak. setelah itu kami harus melewati oro-oro ombo yg dalam bahasa indonesia disebut sebagai padang savana yg luas, tapi oro-oro ombo terlihat menghitam bekas terbakar, entah karena ulah manusia atau karena panasnya sinar matahari.

di cemoro kandang, kami berdua sempet mengambil buah ciplukan, wah..lumayan panas-panas bisa panen buah cipluk-an, dan setelah 4 jam perjalanan kami akhirnya sampai juga di Kali Mati.

Di Kali mati, perjalanan kami lanjutkan, kali ini kami tak terlalu menghiraukan 5 pendaki yg mengikuti kami, penjalanan kali mati - arcopodo kami tempuh hanya sekitar 45 menit. sore mulai gelap dan kami bertenda di arcopodo, sementara 5 pendaki belum juga sampai setiap ada pendaki lainnya, kami selalu bertanya apakah ada 5 pendaki dari Jakarta.

Jam 7:00 malam, akhirnya 5 pendaki tadi sampai juga di arcopodo tapi malam itu pula mereka memberitahukan kepada kami, kalau mereka sudah tidak akan melakukan perjalanan menuju puncak karena temannya ada yg sakit.

Malam mulai tiba, kamipun mulai tertidur lelap dan tak terasa ternyata pagi telah tiba, Jam 5:40 pagi kami bangun tampa pikir panjang kami bergegas beranjak, tampa jaket kami memutuskan untuk ke puncak hanya menggunakan baju kaos saja karena matahari pagi telah terbit.

melewati nama wilayah bernama Kelik, yg biasanya digunakan untuk memasang IN Memoriam bagi pendaki yg tewas. dulu masih terlihat in memoriamnya sho hok gie, tapi mungkin karena longsoran, batu nisan banyak yg menghilang.

Melewati tanjakan pasir yg labil menuju puncak mahameru, kami membalap 2 pendaki di cemoro tunggal jam 08:20 kami tiba di puncak mahameru. perjalanan dengan kecepatan maksimum hingga kami untuk menuju puncak perlu 2:20 menit saja, itu pun kami sempet beberapa kali mengambil photo Mt. mahameru.

Setelah tiba dipuncak kami bersalaman tanda ucapan selamat, disini dipuncak mahameru ternyata sudah ada 5 pendaki yg dari pagi sudah dipuncak, mereka menunggu temannya yg belum juga sampai.

kami tak mau berlama-lama dipuncak mahameru dan setelah 3 kali kawah Jonggring seloko mengenduskan wedus gembelnya disertai dengan hujan pasir dan suara gemuruh kawah jam 9:00 pagi kami memutuskan untuk turun.

***

Perjalanan turun yg berdebu, membuat kami harus mengatur jarak yg lumayan jauh, kurang dari 40 menit kami sudah tiba di arcopodo. kami mulai berkemas dan menyempatkan sarapan pagi untuk melanjutkan perjalanan menuju Ranu kumbolo. kali ini kami hanya berdua, sementara 5 pendaki yg mengikuti kami ternyata sudah turun duluan.

Perjalanan menuju ranu kumbolo lumayan santai, kami tak lagi dibebani oleh 5 pendaki, berkali-kali kami harus mengatur jarak seperti harapan kami di cemoro kandang kami beristirahat sejenak untuk mencari buah cipluk-an lagi.

setelah lebih dari 3 jam perjalanan. akhirnya kami tiba ranu kumbolo kami berharap akan menginap satu malam disini baru keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan turun ke desa ranupane.

Di ranu kumbolo, sore hari kami memasak. ikan asin yg tersisa kami goreng plus goreng kerupuk.. walah, serasa dirumah..

aku sempatkan untuk memancing tapi tak dapat ikan. ketika malam tiba kami ngobrol sebentar sementara dinginnya danau ranu kumbolo mulai membuat tangan sedikit menggigil. tengah malam suhu udara mencapai titik Nol dejarat beberapa butiran es tampak terlihat.

tak terasa karena dinginnya malam matahari pagipun telah tiba, kami mulai memasak sisa makanan kami dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan. Jam 8:00 pagi kami berangkat, kali ini kami ketemu 4 orang yg 2 orang dari mojokerto dan yg 2 orang lagi berasal dari surabaya.

seperti biasanya, kicauan burung-burung dan pemandangan indahnya gunung mahameru dengan wedus gembelnya mengiringi perjalanan kami. tak terasa menjelang siang hari akhirnya kami tiba di Desa Ranu pane lagi.

aku juga sempat menanyakan apakah ada 5 pendaki dari Jakarta yg turun ke petugas TN Bromo tengger semeru dan ternyata ada, sukurlah mereka turun dengan selamat.

sore hari kami tiba di Arjo sari dan setelah tanya beberapa loket Bus untuk tujuan Jakarta dan ternyata semua bus sudah berangkat, aku memutuskan untuk mampir kerumah Yudha di Lawang. lumayan aku bisa mandi dulu dan setelah maghrib yudha mengantar aku ke Pasar Lawang untuk melanjutkan perjalanan ke terminal purabaya-Surabaya.

di ps. lawang kami berpisah, pesan Yudha “jangan kapok ya, trekking bareng aku”, aku pun membalasnya dengan ” Aku berharap kita bisa Trekking bareng lagi”

Posted in Gunung | No Comments »

Next Entries »

    Photos

    IMG_0062.jpg IMG_8556.JPG IMG_0903.jpg
  • Pages

    • 2008 Exploration
    • About Us
    • Archive
    • Contact Me
    • Photography
      • Odesya Exploration
      • Travel Photography
  • Mount Welirang - Arjuno apa beda backpacker sama tourist? Petualang Ziarah Inside Baduy menjadi pmulung di taman nasional gede-pangrango Ujung Kulon Eplore Desa Taman Jaya - Ujung Kulon Kongkong di Gunung Bawakaraeng Ngintip Owa di Taman Nasional Gunung Halimun Only picnic on Mt. Arjuno; and mt. Welirang The RoadHome from mt.Kerinci Meru Betiri Jungle Trekking Customize your trip Ujung Kulon JUngle Trekking Krakatoa Volcano Hiking Lombok - Komodo Sailing and Flores Overland Trekking di Jalan Aspal Taman Nasional Alas Purwo Desa Taman Jaya - Ujung Kulon Perjalanan Ke Desa Wisata Sawarna Kupang - Pulau Rote - Nembrala Beach
  • Categories

    • Article (11)
    • Ecotourism Destination (9)
    • Exotic Destination (12)
    • Gunung (18)
    • Hutan Cagar Alam (5)
    • Ngoceh Ngarang (2)
    • Others (4)
    • Petualangan (15)
    • Program (5)
    • Taman Nasional (17)
    • Trip on Schedule (1)
  • Blogroll

    • Odesya Exploration Photo
    • Plugins
    • Themes
    • WordPress Planet

Powered by WordPress with White as Milk Theme designed by Azeem Azeez.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS.