Desa Perburuan Ikan Paus Lamalera
Saturday, February 3rd, 2007Pulang dari main air di bau mata, alamak.. anak kami ternyata mencret-mencret, dan duh.. apakah harus terus melakukan perjalanan atau tidak, masih ada semalam lagi di kupang.. tunggu dulu!
setelah pikir 2x, peralatan pendakian gunung terpaksa saya shiping ke jakarta, karena beban bawaan kami terlalu berat, kadang saya harus membawa 2 backpack di depan dan di belakang, dan ternyata kami sulit moving.
Senin 3 juli 2006 jam 10.00, ternyata trigana begitu ontime untuk jadwal penerbangan, travel agent kami menyarankan untuk pakai ini, karena merpati sering batal terbang dengan banyak alasan. penerbangan Kupang-loweba dengan pesawat kecil kapasitas 40 penumpang waktu tempuhnya lumayan cepat, 40 menit, tak terasa kami sudah tiba di loweleba - lembata.
Tiba di bandara, bingung… clingak-clinguk, ibu disebelah menawarkan kami untuk ikut dia mampir kerumahnya, karena dibandara tidak ada angkutan umum apalagi taxi, ojek pun harus di pesan. dan kami di antar ke terminal timur lembata, karena tujuan berikutnya kami ingin bertandang semalam atau dua malam di lamalera, desa yang lebih di kenal karena penduduk nya memburu ikan paus.
Image
Menjelang siang, kami habiskan banyak waktu di terminal ini, terminalnya mungkin akan berbeda dengan terminal di jawa, umumnya angkutan umum disini adalah truk yang di jadikan angkutan penumpang. nggak ada jurusan, orang disini menandai nya dengan Nama di samping truk, ada 3 truk yang berangkat setiap siang ke desa lamalera, kami naik truk Kasih Bunda, ada juga firdaus atau ’suh saya lupa namanya’, truk nggak hanya mengangkut orang, tapi juga babi, anjing, kambing atau apasaja yang dibawa oleh penumpang, pasti di angkut.
diterminal ada tabel kondisi jalan, semua bisa di bilang rusak berat, karena itu angkutan yang bisa lewat hanya truk.
Hampir 2 jam menunggu di terminal, truk mulai berangkat dengan muatan yang penuh. melewati hutan - hutan kecil, melintas pegunungan pulau lembata, butuh 3 jam perjalanan untuk tiba di desa Lamalera, desa di pesisir timur pulau lembata. di buku guiding disebutkan penduduk umumnya penganut old catholic dan masih melakukan transaksi penjualan dengan sistem barter.
Image
Kami memutuskan bermalam di homestay “whitehouse” alias rumah putih yang di kelola oleh guru piano, Sophia namanya pengelola, view nya memandang laut dan rumah peledang di pantai lamalera.
homestaynya persis di pinggir laut, dan juga dekat dengan kandang babi.
Pagi, kami benar-benar lelah, saya jadi berpikir ulang untuk ikut ke laut ketika melihat peledang-peledang mulai di keluarkan dari rumahnya, perburuan paus??? tidak juga, penduduk lamalera tidak hanya memburu paus, tapi memburu Pari manta, lumba-lumba, penyu juga ikan terbang.
tapi menurut penduduk sudah 2 bulan ini, belum ada paus yang tertangkap. minggu kemarin ada yang terlihat tapi tidak tertangkap.
Perburuan paus, terkadang bisa menyeret peledang hingga ke lautan australia. walaupun kejadiannya jarang sekali. karena perburuan paus ada aturan adat yang ketat.
Menjelang sore, sebuah peledang mendarat dengan Penyu besar hasil tangkapan hari ini, anak-anak berebut mencari ikan terbang untuk di makan matanya, katanya lezat! padahal begitu saya coba amisnya tak kunjung hilang dari rongga mulut.
Tapi saya penasaran dengan cara mereka memotong penyu, dan ternyata makan malam kami mendapat hidangan daging penyu.
dan perjalanan pulang dari desa lamalera, truck harus di pesan, karena jam 3-5 pagi, truck akan berangkat ke lembata, karena perjalanan berangkat kami pakai truck kasih bunda, kami pun pulangnnya dengan truck yang sama, jam 04 pagi. shopie sudah bangunkan kami karena truck sudah menunggu, ternyata truck sudah overload, diatas beberapa ekor babi ribut di pagi buta. ternyata ini hari pasar di wulandoni, pengen… tapi, karena terbatasnya waktu.. ya, kami harus putuskan kembali ke lembata dan melakukan perjalanan ke flores.
Setengah hari di pelabuhan menunggu kapal perintis rute loweleba-way werang- larantuka. kapal kayu, kapasitas bisa mencapai 100 penumpang, nggak tau apakah safety prosedur laku atau tidak di kapal ini, setelah 4 jam perjalanan, menjelang sore tiba di Larantuka. kota nya rio of indonesia terkenal dengan patung jesus.
Image
Getting to Desa Lamalera (lamalera village - traditional whale hunting)
From Kupang
by airline Trigana Air setiap hari Sabtu - Senin dan Rabu tiket fare 460.000 - 600.000
by ASDP kupang to Loweleba Rp. 46.000 take 12 hours
From Larantuka, menggunakan Kapal Motor Perintis Larantuka-Waywerang - Loweleba Rp. 25.000
dari Loweleba bisa naik Ojek atau PT-PT Angkutan Kota ke Terminal Timur, dari terminal timur Naik Bus Kayu alias Truk yg dijadikan angkutan penumpang ke desa Lamalera Rp. 30.000 Nama body Truck = Kasih Bunda - Firdaus
akomodasi : Mama Maria or Rumah Putih average Rp. 60.000 incl 3 times meal